YOGYAKARTA - Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin mengakui bahwa syahwat politik NU lebih besar daripada Muhammadiyah khususnya dalam berkancah di panggung politik dan parpol di Indonesia. Menurut Din, hal itu bisa dilihat dari majunya para calon kepala daerah yang berasal dari NU untuk pilkada di beberapa wilayah khususnya di Jawa.
"Saya akui NU syahwat politiknya untuk terjun berpolitik lebih besar daripada Muhammadiyah terutama di Jawa. Itu juga bisa dilihat misalnya dari penelitian mahasiswa S3 asal Korea Eunsook Yung belum lama ini," kata Din di Yogyakarta, Senin (17/3/2008).
Menurut Din selain itu dari sisi kesejarahan bisa dilihat pula bahwa NU pada masa lalu pernah menjadi sebuah parpol sedangkan Muhammadiyah belum pernah. Din menambahkan Muhammadiyah selama ini lebih berkonsentrasi untuk kaderisasi internal kultural massanya daripada berkiprah di politik kepartaian.
Kondisi seperti ini kata Din bisa menguntungkan namun bisa juga merugikan bagi NU maupun Muhammadiyah sendiri.
"Ya jelas merugikan kalau misalnya partai nya kalah dalam pilkada. Belum lagi jika justru memantik berbagai konflik horizontal antar massa maupun internal NU dan Muhammadiyah sendiri," jelasnya.
Di sisi lain Din mengatakan bahwa politik Muhammadiyah menyebar ke berbagai organisasi dan parpol dan tidak terfokus pada satu golongan/parpol. Ini secara jelas bisa dilihat dari orang-orang Muhammadiyah yang menampati posisi di parpol seperti Golkar, PPP,PKS, PBB, PAN, bahkan PKB sendiri.
"Di DPR justru dari 550 anggota, 161 orang Muhammadiyah ada di Golkar. Kalau di PAN hanya separuhnya mungkin dari 53 atau 56 anggota di sana," tutup Din. (Satria Nugraha/Trijaya/fit)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan