PNS Edarkan Setengah Ons Sabu-Sabu

KEDIRI - Satuan Narkoba Polresta Kediri berhasil meringkus 15 anggota jaringan pengedar narkoba terbesar di Kediri. Dari tangan mereka, petugas mengamankan 64,1 gram sabu-sabu dan 40.000 butir pil koplo senilai Rp150 juta.

"Pengungkapan ini cukup fenomenal karena dilakukan selama satu pekan pelaksanaan operasi sakaw, yakni terhitung tanggal 17-25 Maret," ujar Kapolresta Kediri AKBP Putu Jayan Danu Putra, Selasa (25/3/2008).

Penangkapan jaringan ini bermula dari penangkapan Budi Waluya (34), Sekretaris Kel Blabak, Kec Pesantren, Kota Kediri yang berstatus PNS. Pegawai kelurahan itu diketahui kerap memesan sabu-sabu dan mengkonsumsi narkoba di rumahnya. Bahkan beberapa kali ia terlihat sakaw ketika bertugas di kantor kelurahan.

Setelah dilakukan penyelidikan, petugas berhasil mengetahui jaringan pegawai kelurahan ini yang berhubungan dengan seorang kurir bernama Agus Supriyadi alias Pithil (32), warga Desa Purwokerto, Kec Ngadiluwih.

Ironisnya, selain menyalurkan sabu-sabu kepada Budi Waluya, Agus juga memasok kepada Komariyah (35), ibu dua anak warga Dusun Mirigerot. Perempuan yang bekerja sama dengan suaminya ini menjual narkoba dengan alasan kebutuhan ekonomi.

Dari tangan mereka berhasil diamankan 64,1 gram atau 0,5 ons lebih sabu-sabu yang dibagi dalam dua kemasan plastik. Diperkirakan sabu-sabu itu bernilai Rp100 juta.

Sabu-sabu tersebut dijual dengan harga Rp1,4 juta per gram oleh tersangka. Diduga barang itu didapat dari jaringan lain yang berada di Surabaya. Kapolresta menduga kawasan Kediri hanya menjadi kota transit peredaran sabu-sabu mengingat selama ini jarang sekali ditemukan narkoba jenis ini.

Ketiga tersangka juga diduga menjadi bagian dari jaringan kelas kakap. Hal ini diketahui dari rapinya cara kerja mereka serta kelengkapan sabu-sabu seperti timbangan, plastik, pipet, aluminium foil, alat hisap, dan dua buah HP yang menjadi sarana komunikasi.

Selain ketiga tersangka, petugas juga menggulung komplotan pengedar pil koplo jenis dobel L. Tak tanggung-tanggung, dari tangan 12 anggota jaringan ini berhasil diamankan 40 ribu butir yang dijual seharga Rp250 ribu per bungkus (1.000 butir). Diperkirakan total keseluruhan barang haram yang disita mencapai Rp150 juta. Ironisnya, 3 dari 12 anggota sindikat ini masih berstatus sebagai pelajar.

Pengungkapan kasus narkoba ini cukup menjadi prioritas utama jajaran Polresta Kediri. Setiap bulannya berhasil diungkap 4-5 kasus dengan jumlah tersangka 4-10 orang setiap kasusnya. Jumlah ini sangat tinggi mengingat kawasan Kediri bukan merupakan kota besar seperti Surabaya dan Malang.

"Melihat domisili para tersangka yang sebagian besar dari luar kota, jaringan ini memang dikuasai kelompok Surabaya. Mereka sengaja memanfaatkan orang-orang lokal sebagai kurirnya saja," tambah Putu Jayan.

Untuk menghindari kejaran petugas, kelompok ini juga kerap memanfaatkan jasa perbankan dalam melakukan transaksi. Sehingga proses pengirimannya cukup menggunakan jasa kurir dengan sistem pembayaran non tunai. Sistem ini jauh lebih tersembunyi dibandingkan sindikat biasa yang menggunakan sistem tunai.

Kepada petugas, para tersangka cukup piawai menyembunyikan informasi keberadaan jaringan di atasnya. Mereka memilih bungkam ketika diminta menyebutkan identitas pemasok yang diduga masih berada di Surabaya. "Tidak tahu mas, saya hanya terima dari Agus," ujar Budi Waluyo sambil menunjuk pemasoknya yang berada di sebelahnya.  (pie)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Jokowi Senang Burung di Istana Berkicau Semua