Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Theo Van Gogh, Geert Wilders, dan Islamofobia

Nurfajri Budi Nugroho , Jurnalis-Jum'at, 28 Maret 2008 |20:04 WIB
Theo Van Gogh, Geert Wilders, dan Islamofobia
A
A
A

Geert Wilder tak belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Apa yang dilakukan anggota DPR Belanda ini dengan film Fitna mengingatkan kita pada terbunuhnya sutradara kenamaan Belanda, Theo van Gogh.

Pagi hari di tanggal 2 November 2004, saat tengah bersepeda menuju tempat kerjanya, sutradara yang juga dikenal sebagai produser, aktor, dan wartawan itu dibunuh Mohammed Bouyeri, seorang warga Muslim keturunan Maroko.

Penyebabnya, tak lain adalah film Submission yang dibuatnya bersama politisi Belanda keturunan Somalia, Ayaan Hirsi Ali. Film itu menggambarkan para perempuan Islam yang konon kerap dianiaya suami mereka. Perempuan dalam film itu mengenakan pakaian transparan, dan di tubuhnya dituliskan ayat-ayat Alquran.

Sementara dalam Fitna yang diposting di situs LiveLeak.com, dimunculkan karikatur kontroversial dari Denmark yang menghina Nabi Muhammad, yang pada 2006 dan awal tahun ini memicu kemarahan umat Islam. Di bagian lain film ini, muncul rekaman serangkaian peristiwa teror, yang diiringi dengan petikan suara ayat suci Alquran. Ayat-ayat itu, menurut Wilders, menjadi legitimasi dilakukannya kekerasan oleh Muslim.

Yang dilakukan Wilders itu tentu patut disayangkan. Sebab, di tengah upaya dialog antara Islam dan Barat, penghinaan semacam ini justru akan semakin mempersulit dan memperkeruh suasana.

Beberapa waktu lalu, Komisi Eropa untuk Rasisme dan Intoleransi (ECRI) menyebut, Islamofobia telah meningkat di Belanda semenjak pergantian abad, dipicu sejumlah peristiwa seperti penyerangan 11 September di Amerika Serikat dan pembunuhan terhadap Theo van Gogh di Amsterdam.

Persoalan Islamofobia bahkan menjadi perhatian khusus yang dibahas dalam sidang Organisasi Islam (OKI) pertengahan bulan ini di Dakar, Senegal. Para pemimpin OKI secara tertulis juga menyatakan penyesalan tentang maraknya Islamofobia di Eropa.

Kita tentu tidak berharap Wilders akan bernasib seperti van Gogh. Hanya saja, jika penghinaan semacam ini terus dilakukan, maka ekstrimisme agama akan terus muncul. Dan, ekstrimisme akan selalu muncul sebagai reaksi dan bentuk pembelaan terhadap nilai ketuhanan yang diyakini pelakunya.

Jika sikap intoleran semacam ini terus ditumbuhkan, bukan tidak mungkin tesis Samuel Huntington tentang terjadinya benturan antarperadaban akan terjadi. Patrick J Buchanan dalam Is Islam an enemy of the United States? juga sudah mewanti-wanti, jika tidak diantisipasi, maka bukan tidak mungkin Barat akan menjadikan Islam sebagai musuh, setelah Komunisme.

Dan Wilders, setelah van Gogh dan Kurt Wetergaard --si pembuat kartun Nabi Muhammad-- telah menjadi penyulutnya.

Apalagi, tanpa merasa bersalah, dalam wawancara setelah meluncurkan Fitna, Wilders menyatakan, "Pada 1945, Nazi dikalahkan di Eropa. Pada 1989, Komunisme dikalahkan di Eropa. Sekarang ideologi Islam harus dikalahkan."

Tentu ini akan semakin membuat sulit gagasan untuk melakukan dialog lintas-iman, demi perwujudan perdamaian.

(Nurfajri Budi Nugroho)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement