Puluhan Situs Kerajaan Kuno di Jatim Terantar

Minggu, 11 Mei 2008 06:24 wib | Solichan Arif - Sindo

BLITAR - Puluhan situs purbakala yang ditemukan di Jawa Timur tidak bisa tergarap maksimal. Bahkan beberapa di antaranya dibiarkan terlantar. Sebab, lokasi situs berada di aset pribadi, yang butuh waktu panjang untuk beralih menjadi aset negara.

Hal itu diungkapkan Danang Wahyu Utomo Ketua Tim Eskavasi Penyelamatan benda purbakala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur di Trowulan Mojokerto.

Menurut dia, dengan latar belakang itu, puhak BP3 akhirnya menerapakan skala prioritas bagi situs-situs yang baru ditemukan. "Kalau jumlahnya se Jawa Timur ada puluhan yang belum bisa digarap maksimal oleh BP3.

Salah satu faktor penyebabnya adalah lokasi yang merupakan aset pribadi. Ini yang membuat proses menjadi panjang, " ujarnya saat ditemui di Kabupaten Blitar Sabtu (10/5/2008).

Salah satu peninggalan bersejarah yang tak tergarap optimal adalah situs Besole di Desa Darungan Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar. Situs yang diduga sejarah Kerajaan Kadiri yang ditemukan sejak April 2006 lalu itu hingga kini masih terbenam di dalam tanah pekarangan milik Sayuti, 65 warga setempat sekaligus penemunya.

Fisik bangunan yang diduga Gerbang gaya Bentar, yakni pintu masuk menuju ruang pemujaan suci jaman pemerintahan Prabu Brameswara abad ke XI itu belum sepenuhnya terkuak. Dari usaha penggalian yang
dilakukan timBP3 pada November 2006 lalu hanya mampu memunculkan susunan batu bata berundak selebar 15 meter dan berketinggian sekitar 1,6 meter.

"Diperkirakan luasnya lebih besar lagi. Situs Kerajaan Kadiri, lebih tua dari jaman Majapahit. Namun karena tanah yang lainya milik warga dansaat kita minta ijin untuk melakukan penggalian, maka kita tidak bisa meneruskan untuk memastikan berapa sebenarnya lebar konstruksi bangunan, "terang Danang.

Seperti diketahui, pada Bulan Mei 2008 ini proses penggalian situs Besole kembali dilakukan. Tim BP3 yang berjumlah sebanyak 9 orang itu kembali memasang benang pembatas struktur bangunan dan mulai menggali-gali untuk mencari dasar serta luas bangunan yang semuanya didominasi baru bata.

Berdasarkan analisa sejarah sementara,gerbang yang menghadap barat itu sebagai pintu masuk para tamu yang hendak bertandang ke perkampungan masyarakat Hindu. Jarak antara situs dengan sungai brantas hanya sekitar 100 meter.

Pada jaman dahulu kala, sungai merupakan satu-satunya jalur transportasi darat yang paling lancar. Adapun penyebab terpendamnya situs diduga akibat material sungai brantas yang terbawa arus sungai saat meluap (banjir). "Selain itu terpendamnya situs karena letusan gunung Kelud.

"Di dusun Besole ini banyak sekali situs sejarah yang ditemukan. Selain prasasti Besole, juga ada situs candi simping, jaman kerajaan Majapahit pertama Raden Wijaya," paparnya.

Penggalian tahap II ini hanya berlangsung selama 10 hari. Saat ini tim BP3 sudah berjalan selama 4 hari.


Menurut Danang, karena status lokasi sebagian besar milik warga masyarakat, dan mereka tidak rela melepaskan untuk penelitian, maka target BP3 dengan penggalian ini hanya ingin memastikan sejarah situs
tersebut.

"Terutama tentang jaman kerajaan dan kekuasaan raja siapa. Apa yang kita sampaikan saat ini baru analisa sementara, "ujarnya.

Bagaimana dengan pelestarian situs itu sendiri ketika aset masih menjadi milik masyarakat? Danang mengatakan, untuk masalah pelestarian,BP3 sementara akan memasrahkan kepada pemilik lahan sekaligus penemu situs.

Menurut Danang,kalau pemerintah mau serius memberikan penanganan, solusi satu-satunya adalah melepaskan lahan untuk menjadi aset milik negara. "Itu kalau memang serius.

Namun untuk sementara kita pasrahkan kepada pak Sayuti alias pak Keang selaku pemilik sekaligus penemunya. Dalam proses ini kita juga akan usulkan pak Sayuti sebagai Jupel (Juru Pelihara)," ujarnya menambahkan untuk situs sejarah yang tak tergarapa karena persoalan status tanah adalah di Kecamatan Doko Kab Blitar. Yakni sebuah Punden Berundak.

Sementara Mbah Sayuti,(65) selaku pemilik dan penemu situs Besole ini mengatakan, dirinya akan merawat dan membersihkan bangunan sejarah itu sesuai kemampuanya. Sebab tenaga yang dikeluarkannya adalah terbatas.

"Paling setiap empat hari sekali mas saya bersihkan agar tidak ada lumut yang datang. Namun semuanya saya lakukan sesuai kemampuan saya mas, "terangya. Kakek tiga cucu yang akrab dipanggil Mbah Keang itu berkisah awal dirinya menemukan gerbang jaman kerajaan kuno Kadiri ini.

Penemuan tak sengaja dari mencangkul hendak membuat kolam ikan pemancingan itu berawal dari sebuah mimpi. Dalam alam bawah sadarnya duda satu anak ini dibelit ular besar dan air. Tidak itu saja. Tubuhnya yang kurus dan tak berdaya itu juga dihimpit sebatang pohon beringin tua besar.

"Lokasi kejadian itu di pekarangan yang ada situsnya ini. Dalam mimpi itu saya berdialog meminta untuk diberi jalan pelepasan, "terangnya. Kemudian, keesokan harinya saat mencangkul untuk membuat kolam ikan, ujung logam pipih yang diayunkanya membentur benda keras.

Setelah dilihat dan diperdalam berupa susunan batu bata yang berbentuk gerbang. "Sekitar satu bulan saya gali sendiri sebelum kemudian saya laporkan ke desa dan akhirnya ditinbdaklanjuti dengan digali," ujarnya menambahkan berharap situs bersejarah itu bisa terus terpelihara. (Solichan Arif/Sindo/fit)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »