Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

UGM Nyaris Jadi Korban Kelompok Djoko Suprapto

Satria Nugraha , Jurnalis-Rabu, 28 Mei 2008 |13:24 WIB
UGM Nyaris Jadi Korban Kelompok Djoko Suprapto
A
A
A

YOGYAKARTA -  Universitas Gadjah Mada (UGM) ternyata nyaris menjadi korban dari kelompok Djoko Suprapto yang belakangan terkenal dengan temuan Blue Energy-nya yang akhirnya mendapat tentangan dari para pakar dan ilmuwan. Ini terjadi ketika rektor UGM masih dijabat oleh Prof Dr Sofyan Effendi.

Menurut Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono, Msc, penipuan kelompok Djoko Suprapto terjadi sekira tahun 2005-2006 silam. Waktu itu kelompok Joko Suprapto sempat presentasi di hadapan Rektor Sofyan Effendi mengenai sebuah temuan dan pengembangan proyek pembangkit listrik dan panel surya.

Waktu itu selaku juru bicaranya adalah Purwanto yang saat ini juga tengah mengelabuhi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) soal Banyugeni-nya itu, kata Sudiartono di UGM, Rabu (28/5/2008).

Lebih lanjut Sudiartono menambahkan bahwa setelah melakukan presentasi di hadapan Rektor soal pembangkit listrik berkapasitas 25 kilowatt, ujung-ujungnya kelompok Djoko Suprapto tersebut hanya meminta surat keterangan (MoU) pengakuan atas hasil ciptaannya itu memang dari UGM. Selain itu UGM diharapkan pula bisa membantu memberikan dana untuk menyelesaikan riset itu.

"Bahkan Pak Sofyan sempat tertarik untuk membeli temuan itu. Namun sebelumnya beliau meminta PSE UGM mengkaji dulu secara ilmiah," katanya.

Kecurigaan pihak UGM bertambah ketika di hari lain Purwanto mewakili kelompok Djoko Suprapto ini berdiskusi di kantor PSE UGM. Dari berbagai kajian dan jawaban Purwanto mengenai pembangkit listrik temuan mereka dinilai tidak ilmiah dan tidak masuk akal sebab kebanyakan bertentangan dengan hukum kekekalan energi.

"Kita makin yakin itu penipuan setelah dia bicara mampu membuat PLT Matahari dengan melobangi ozon. Dan ketika itu dia beralih mengenai Bahan Bakar Air, langsung tidak kita tanggapi," jelasnya.

Puncak ketidakpercayaan UGM, kata Sudiartono, berlanjut setelah sia menelusuri alamat kartu nama Purwanto di Surakarta, Jawa Tengah yang dia sebut sebagai kantor/tempat workshop-nya. Sebab ternyata tempat itu adalah alamat rumah dinas Direktur PDAM Surakarta. Sementara itu nomor telepon dan faks yang tertera dalam kartu nama ketika dihubungi hanya diterima oleh seorang anak kecil. Maka setelah itulah UGM akhirnya memutus hubungan dengan kelompok Djoko Suprapto itu.

"Saya langsung telepon HP Purwanto dan menyatakan putus komunikasi karena ada indikasi penipuan," tuturnya.

Dengan hal itulah, maka Sudiartono berharap agar semua pihak termasuk kalangan Perguruan Tinggi dan pemerintah untuk berhati-hati dan tidak mudah dimafaatkan oleh pihak-pihak yang hanya mencari keuntungan serta popularitas. Masyarakat dan para pimpinan negara juga diimbau untuk tidak panik menyikapi krisis energi seperti sekarang ini yang ujung-ujungnya hanya menjadi objek penipuan kelompok atau oknum yang bertanggung jawab tersebut.

"Jangan mudah panik menyikapi krisis energi dan jangan mudah percaya terhadap temuan yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah," kata Sudiartono.

(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement