Image

PLN Salah Hitung Tagihan

PLN Salah Hitung Tagihan

Kami adalah pelanggan PLN dengan No. ID Pelanggan 543103369678, daya sebesar 33.000 VA, dengan batas hemat Kwh sebesar 3.234,00 Kwh. Selama ini kami hanya menerima lembar tagihan listrik dari PLN tanpa pernah melihat apakah angka standmeter yang dicatat oleh petugas PLN sebagai acuan perhitungan banyaknya beban pemakaian tersebut sesuai atau tidak. Namun, pada tagihan bulan Juni 2008 (pemakaian Mei), tagihan tiba-tiba melonjak lebih dari 60% dari tagihan bulan-bulan sebelumnya, setelah kami cek ternyata angka standmeter akhir yang tertera di lembar tagihan yaitu 045.907,00 dengan tanggal pencatatan yaitu tanggal 04 Juni 2008, yang dicatat oleh petugas PLN, ternyata berbeda dengan standmeter yang tertera di box meteran listrik. Waktu itu, kami memeriksa tanggal 09 Juni 2008, angka di standmeter tertera 045.447,00, sehingga ada perbedaan angka stand meter sebesar 460 Kwh. Dengan perbedaan angka standmeter tersebut, kami berasumsi bahwa selama ini petugas PLN hanya mencatat berdasarkan perkiraan saja, meskipun beban tersebut juga akan mempengaruhi pembayaran bulan berikutnya yang otomatis lebih murah kelihatannya, tetapi bila dihitung secara keseluruhan tagihan setelah dikoreksi di bulan berikutnya tetap merugikan pihak pelanggan, karena dalam perhitungan PLN menerapkan maximal pemakaian Kwh untuk tarif subsidi dan non subsidi.

Contoh Perhitungan :

Misalnya standmeter bulan sebelumnya menurut PLN dan Pelanggan adalah sama yaitu 040.907, maka perhitungannya adalah sbb :

Menurut PLN :

045.907 stand akhir

040.907 stand awal

5.000 jumlah pemakaian Kwh bulan Mei

Batas maximal pemakaian Kwh untuk tarif subsidi adalah 3.234 Kwh

3.234 x Rp. 621 = Rp. 2.008.314

1.766 x Rp. 1.380 = Rp. 2.437.080

Biaya Beban = Rp. 1.130.580

Total pemakaian = Rp. 5.575.974 (asumsi belum termasuk PPN dll)

Menurut Pelanggan :

045.447 stand akhir

040.907 stand awal

4.540 jumlah pemakaian Kwh bulan Mei

Batas maximal pemakaian Kwh untuk tarif subsidi adalah 3.234 Kwh

3.234 x Rp. 621 = Rp2.008.314

1.306 x Rp. 1.380 = Rp1.802.280

Biaya Beban = Rp1.130.580

Total pemakaian = Rp4.941.174 (asumsi belum termasuk PPN dll)

Sedangkan untuk bulan berikutnya, asumsi standmeter sama yaitu 046.507, maka perhitungannya adalah sbb :

Menurut PLN :

046.507 stand akhir

045.907 stand awal

600 jumlah pemakaian Kwh bulan Juni

Batas maximal pemakaian Kwh untuk tarif subsidi adalah 3.234 Kwh

600 x Rp. 621 = Rp372.600

Biaya Beban = Rp1.130.580

Total pemakaian = Rp1.503.180 (asumsi belum termasuk PPN dll)

Menurut Pelanggan :

046.507 stand akhir

045.447 stand awal

1.060 jumlah pemakaian Kwh bulan Juni

Batas maximal pemakaian Kwh untuk tarif subsidi adalah 3.234 Kwh

1.060 x Rp. 621 = Rp658.260

Biaya Beban = Rp1.130.580

Total pemakaian = Rp1.788.840 (asumsi belum termasuk PPN dll)

Apabila kita jumlahkan dari pembayaran dua bulan tersebut di atas adalah sbb :

Menurut PLN

Rp5.575.974 + Rp1.503.180 = Rp7.079.154,

Menurut Pelanggan :

Rp4.941.174 + Rp1.788.840 = Rp6.730.014

Dari perhitungan di atas, meskipun ada koreksi dari PLN untuk bulan berikutnya tetap saja dalam hal ini pelanggan dirugikan sebesar Rp349.140, (Rp7.079.154 - Rp6.730.014) untuk satu pelanggan.

Bagaimana kalau hal ini menimpa lebih dari 1.000 pelanggan PLN di Jakarta, merupakan jumlah yang cukup besar bukan ?

Desi Suryani

Jl. Kemang Timur Raya No 56, Mampang, Jakarta Selatan

021-7181389

(fer)
Live Streaming
Logo
breaking news x