DENPASAR - Sedikitnya 400 unit kapal pengangkut tuna di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, berhenti beroperasi akibat krisis pasokan bahan bakar minyak. Akibatnya, kerugian ditaksir mencapai Rp350 miliar.
Kondisi itu membuat kegiatan bongkar muat tersendat. Sekitar 6 ribu anak buah kapal (ABK) juga berhenti beraktivitas. "Jumlah kapal yang tidak beroperasi mencapai 60 persen dari 747 unit kapal yang ada," kata Sekjen Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) Dwi Agus Siswa Putra di Kantor ATLI, Pelabuhan Benoa, Sabtu (12/7/2008).
Agus mengatakan, kondisi tersebut sebenarnya sudah berlangsung hampir empat bulan terakhir. Dalam rentang waktu itu, Pertamina hanya memasok 100 kiloliter solar per hari. Jatah bahan bakar itu pun hanya cukup untuk memenuhi tiga unit kapal di bawah 30 GT (gross ton). Sedangkan pada lima hari berikutnya, pasokan solar ke pelabuhan selalu terhenti alias kosong.
Akibat kejadian itu, para pengusaha ikan tuna merugi rata-rata Rp875 juta untuk setiap kapal yang tidak beroperasi. Padahal, bulan-bulan ini sedang musim tangkapan tuna," ujar Kasdi Tasman, salah seorang pengusaha ikan tuna.
Secara terpisah, Sales Representatif Retail Pertamina Distribusi Rayon IX Bali Pramono Agung mengakui adanya keterlambatan pasokan solar bagi nelayan di Pelabuhan Benoa. "Namun, itu hanya berlangsung seminggu, bukan empat bulan seperti keluhan nelayan," katanya.
(Miftachul Chusna/Sindo/ful)