JAKARTA - Ada bau tak sedap dalam pemilihan rektor Universitas Tarumanegara (Untar). Bau yang menyengat ini dikabarkan terkait etnis tertentu yang bisa menduduki kursi rektor Untar peridoe 2008-2012.
"Tidak ada. Tidak ada isu itu," kata Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan Rektor Untar Serian Wijanto saat dikonfirmasi okezone, Senin (14/7/2008).
Namun Serian tidak mau menanggapi lebih lanjut persoalan ini dan cenderung menutup diri. Hal yang sama juga dikatakan Guru Besar Fakultas Ekonomi Untar Prof Carunia Firdausy.
"Tidak ada isu seperti itu. Yang ada hanyalah sedikit perbedaan pendapat saja," jelas Carunia.
Dalam pemilihan rektor Untar dikabarkan sejak awal proses pemilihan bersifat tertutup dan pengambilan putusan utama di Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Singgih D Gunarsa, sudah punya calon yaitu Dr Monthy P Satiadharma.
Dari empat calon, ada dua orang yang dianggap kuat yaitu Monthy dan Prof Sofia W Alisjahbana. Dalam proses penyusunan rekomendasi dari Senat Untar, Sofia mengungguli Monthy. Namun, Singgih tetap mengangkat Monthy sebagai rektor.
Sikap Singgih yang keukeuh menimbulkan pro dan kontra. Karena terdesak, Singgih pernah mengucapkan kalimat berbau SARA, bahwa rektor Untar harus beretnis tertentu, karena Yayasan Untar mayoritas pemiliknya juga beretnis tertentu.
(hri)