Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penderita Kaki Gajah Dirawat di RS Soetomo

Amir Tejo , Jurnalis-Rabu, 27 Agustus 2008 |08:17 WIB
Penderita Kaki Gajah Dirawat di RS Soetomo
Foto: Amir Tejo
A
A
A

SURABAYA - Siang itu, Abdul Halim warga Desa Watukebo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi penderita kaki gajah tampak lelah. Di ruang Intalasi Rawat Inap (Irna) Bedah G RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Abdul Halim berbaring ditemani oleh Faisol Firmansyah adiknya yang duduk di kelas 2 SMU. Abdul Halim berbaring di ranjang, sedangkan Faisol dengan menggelar tikar kain rebahan di lantai di bawah ranjang kakaknya.

"Kami dari Banyuwangi Malam Senin (24/8), dan baru tiba di Surabaya Senin siang pukul 14.00. Perjalanan menjadi panjang karena Kereta Mutiara Timur yang kami tumpangi sempat mengalami anjlok. seharusnya sudah sampai di Surabaya pukul 04.00 baru tiba di Surabaya pukul 14.00," kata Abdul Halim.

Namun penderitaan Halim untuk menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo Surabaya, belum berhenti sampai di situ. Begitu tiba di RSUD Dr Soetomo Abdul Halim masih harus berjalan puluhan meter untuk menuju ruang rawatnya.

"Karena keinginan untuk sembuh kuat maka, kuat saja. Padahal beban di kaki ini kira-kira beratnya mencapai 35 kg," kata Halim.

Halim adalah penderita kaki gajah yang rujukan dari RS Genteng Banyuwangi ke RSUD Dr Soetomo Surabaya. Kedatangan Abdul Halim ini bukan yang pertama kali. Kedatangannya ke RSUD Dr Soetomo ini sudah yang ketiga kalinya.

"Setiap enam bulan sekali saya memang harus menjalani operasi pengurangan kaki gajah ini," ujar Halim.

Operasi pertama kali dijalankan sekitar Januari 2007. Pada operasi tahap pertama ini Halim pengangkatan kaki gajah yang tumbuh di scrotumnya. Beratnya mencapai 25kg. Operasi tahap kedua dijalankan sekitar Juni 2007. Pada operasi tahap kedua ini, Halim menjalani operasi pengangkatan kaki gajah di kaki kirinya seberat 10 kg.

"Pada saat pertama kali mau dioperasi, saya ditimbang. Beratnya bisa mencapai satu kuintal lebih," kata Halim.

Namun untuk operasi yang ketiga kalinya Halim mengalami hambatan. Pasalnya ada perubahan dari Askeskin ke Jamkesmas. Halim tidak masuk dalam kuota warga yang dijamin oleh Jamkesmas.

"Justru Supriyadi Kepala Dusun Glundung, dusun tetangga yang lebih peduli kepada saya, dibandingkan dengan kepala dusun saya sendiri di Watukebo Rogojampi Banyuwangi. Pak Supriyadi ini yang memperjuangkan saya agar bisa masuk dalam kuota warga yang ditanggung oleh Jamkesmas," ujar Supriyadi.

Berkat perjuangan Supriyadi akhirnya Halim bisa masuk dalam kuota warga yang dijamin Jamkesmas. Namun ini jaminan Jamkesmas ini tidak menanggung penuh biaya pengobatan Halim.

Pada saat keberangkatannya ke Surabaya ini, Halim sempat meminta untuk diantar dengan menggunakan ambulans. Ini permintaan sama dengan permintaan pada saat Halim akan menjalani operasi tahap pertama dan kedua.

"Namun pihak RS Genteng menolak. Karena menurut mereka Jamkesmas tidak menanggung biaya transportasi juga. Tapi hanya menanggung biaya operasi," tandas Halim.

Akhirnya terpaksa Halim harus menggunakan kereta api untuk menuju ke Surabaya.

(Fitra Iskandar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement