Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Halim dari Belajar Elektronik, Bertemu Jodoh, hingga Diabaikan Orangtua

Amir Tejo , Jurnalis-Rabu, 27 Agustus 2008 |09:49 WIB
Halim dari Belajar Elektronik, Bertemu Jodoh, hingga Diabaikan Orangtua
A
A
A

SURABAYA- Setelah memutuskan untuk berhenti sekolah di kelas 2 SMP, kegiatan Halim lebih banyak di rumah. Namun tak sepenuhya Halim berdiam diri di rumah. Terkadang Halim masih menyempatkan untuk berjalan-jalan ke rumah teman-temannya. Di salah satu rumah temannya Halim sempat belajar elektronik. Kebetulan rumah teman Halim tersebut membuka servis elektronik.

"Dari teman saya itu, akhirnya saya belajar elektronik. Termasuk juga merakit radio amatir," tutur Halim saat ditemui okezone di RS Dr Soetomo, Selasa (26/8/2008).

Dengan keahlian memperbaiki barang-barang elektronik inilah Halim memperoleh penghasilan. Kerap kali Halim dipanggil untuk memperbaiki barang elektonik milik kawannya. Dengan bersepeda, Halim bersusah payah menuju rumah kliennya meski kerap kali juga, ia harus jatuh dari sepeda.

Selain memperbaiki barang elektronik, Halim juga membuka rental Play Station. Sayangnya dua unit Play Station yang ia miliki sekarang sedang rusak.

Untuk mengisi waktu luangnya, selain bermain ke rumah teman dan menerima servis elektronik, Halim juga menghabiskan waktu dengan ngobrol radio amatir. Asal tahu saja, Halim menjadi salah satu anggota Radio Amatir Antar Penduduk Indonesia (RAPI) di Banyuwangi.

"Saya terdaftar di RAPI dengan identitas ZS 33 HZX. Biasanya saya menggunakan nama udara Heri," papar Halim.

Dari hobinya ternyata Halim juga mendapatkan jodoh. Halim berkenalan dengan istrinya juga lewat radio amatir. "Istri saya asalnya dari desa tetangga. Kenalannya lewat radio amatir itu," ujarnya.

Halim pun menikah istrinya pada tahun 1986. Namun sayang, meski Halim sudah mempunyai istri, tapi Halim harus menjalani operasi tanpa didampingi oleh istrinya karena sang istri menjadi TKW di negeri Jiran.

"Dan lagi, saya lagi ada masalah dengan istri saya," ujar Halim lirih.

Tak hanya merasa tidak diperhatikan sang istri, Halim pun juga merasa disia-siakan oleh orangtuanya. Pasca kematian ayah kandungnya, ibu Halim menikah lagi. Sedangkan untuk perawatan Halim, lebih banyak dilakukan oleh kakek dan nenek Halim.

"Abah dan Umi (panggilan Halim untuk kakek dan neneknya) habis-habisan untuk mengobatkan saya. Sawah dan binatang ternak habis untuk biaya pengobatan. Abah dan Umi yang sudah buta hanya sempat meraba benjolan saya di kemaluan pasca operasi pertama. Kini mereka sudah meninggal," ujar Halim sedih.

Sedangkan orangtua Halim dianggap tidak optimal untuk mengusahakan kesembuhan Halim. Bahkan pada saat akan pergi ke Surabaya kemarin, Halim sempat minta uang saku kepada orangtuanya. Permintaan uang saku Halim ini dianggap utang.

"Kalau dianggap utang yang harus dibayar, ya bagaimana lagi? Saya pasrah. Pasti ada rejeki yang bisa dipakai buat membayar utang itu," tutur Halim.

(Fitra Iskandar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement