getting time...

NEWS » News

Hasyim Muzadi Dukung Kaji untuk Selamatkan NU

Minggu, 12 Oktober 2008 18:44 wib

KEDIRI - Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi bersikukuh dukungannya kepada pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) demi menyelamatkan organisasi Nahdatul Ulama di Jawa Timur.

Ia menuding adanya pihak-pihak yang ingin menghancurkan NU dengan menguasai birokrasi di Jatim.

Dalam pertemuan dengan pengurus dan anggota NU se-Kabupaten/Kota Kediri dan Tulungagung di Pondok Pesantren Al Islahiyah, Desa Kemayan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Hasyim mengaku melihat ada kepentingan besar yang ingin menghancurkan NU secara sistematis.

Kawasan Jawa Timur diincar karena menjadi kunci kekuatan NU di Indonesia. Karena itu ia menilai agenda Pilgub Jawa Timur penting untuk diperjuangkan. "Saat ini ada upaya menghancurkan kekuatan NU di Indonesia melalui Jawa Timur. Karena itu kita tidak bisa membiarkan kekuatan birokrasi Jatim jatuh ke tangan orang lain," ujar Kyai Hasyim di Kediri, Jawa Timur, Minggu (12/10/2008).

Menurutnya, sosok Khofifah sebagai ketua Muslimat NU merupakan jaminan kemaslahatan warga NU. Melihat komposisi masyarakat Jawa Timur yang sebagian besar warga NU, sudah sewajarnya kepemimpinan pemerintahan dipegang kader NU sendiri.

Apalagi mengaca perjalanan sejarah dalam lima tahun terakhir, secara organisasi NU tidak pernah mendapat dukungan yang memadai dari Pemerintah Provinsi Jatim. Bahkan warga NU kerap dijadikan bulan-bulanan penguasa karena posisinya yang lemah di pemerintahan. Kondisi ini menurut Hasyim sudah terjadi di beberapa daerah seperti Lamongan dan Lumajang.

"Ketua NU Lamongan dipasang sebagai orang nomor dua dalam Pilkada untuk mencari dukungan suara. Namun setelah jadi, ia dibuat tidak berdaya sama sekali untuk memperjuangkan warga NU," terang Kyai Hasyim.

Kondisi inilah yang saat ini tengah diincar oleh orang-orang yang ingin melemahkan NU di Jatim. Salah satunya dengan berusaha memecah belah para kyai. Hal ini terlihat dengan adanya mobilisasi sejumlah ulama di Jawa Timur untuk memenangkan pasangan Karsa, seperti yang dilakukan Syaifullah Yusuf dengan membangun kontrak politik dengan 500 kyai di Ponpes Al Falah, Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu.

Hasyim sendiri melihat gerakan itu sengaja dirancang untuk membuat barisan kyai kocar-kacir. Dengan segala isu yang sengaja dihembuskan, mereka membuat kalangan kyai saling tuding dan terjebak gerakan dukung-mendukung. Hal itu salah satunya terbukti dengan munculnya tuduhan dari Pimpinan Ponpes Lirboyo Kediri KH Idris Marzuki bahwa dirinya menerima dana dari konglomerat hitam untuk membiayai Kaji. Menurutnya, tudingan itu dilontarkan oleh Mbah Idris karena ketidaktahuannya atas situasi politik yang sedang terjadi.

Bahkan ia berani bersumpah jika hingga saat ini semua dukungan dana yang diberikan kepada Kaji berasal dari dirinya sendiri. Secara organisasi Hasyim bahkan melarang Kaji menerima donatur dari pihak luar yang jelas memiliki kepentingan tertentu.

Karena itu, hingga kini ia melarang Khofifah melakukan kontrak politik seperti yang dilakukan Syaifullah Yusuf. Sebab kontrak politik akan membawa kompensasi politik bagi pihak-pihak yang memberikan dukungan. Hal inilah yang selalu dihindari oleh Kaji dalam menggalang dukungan.

"Saya akan mengejar orang-orang yang sengaja menebarkan api di kalangan kyai. Saya sudah tahu siapa orang-orangnya," ancam Hasyim.
(Hari Tri Wasono/Sindo/ful)