TERIK matahari, seakan menjadi saksi kegagahan Candi Brahu, yang terletak di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Areal candi yang mencapai sekitar 1 hektare, menjadi tempat yang nyaman untuk sekedar berteduh dan menikmati peninggalan sisa kejayaan Kerajaan Majapahit ini.
Apalagi disekitar candi yang berada di tengah persawahan itu, terdapat beberapa bangku dengan tanaman teduh.
Rupanya, kondisi nyaman untuk beristirahat seperti ini, menjadi tempat favorit pasangan muda-mudi. Tak jarang di antara mereka, masih menggunakan seragam sekolah.
Tentu saja, kedatangan para pelajar itu, bukan untuk menikmati dan mempelajari pemandangan berupa bangunan dari batu bata yang konon menjadi tempat pembakaran jenazah para raja ini. Lokasi candi, hanya menjadi tempat untuk bertemu dengan kekasih.
Kondisi ini, tentu saja membuat penanggung jawab candi agar gerah. Selain telah mengubah fungsi candi, kerap kali lokasi ini menjadi sasaran bolos sekolah. Memang, banyak anak sekolah yang hanya datang untuk pacaran, bukan untuk belajar sejarah, kata Harianto, yang mengaku menjadi penjaga Candi.
Dia mengaku, tak bisa banyak berbuat dengan ulah pelajar dan pasangan muda itu. Kerap kali, ia mengingatkan jika lokasi Candi bukan tempat kencan gratis melainkan tempat para wisatawan menikmati wisata sejarah.
Kendati telah banyak mengingatkan, masih saja ada pelajar yang memilih lokasi candi untuk tempat janjian. "Lihat saja, ada berapa pasang yang ada dibangku-bangku itu. Saya capek mengingatkan," ujar Harianto, sembari menunjuk dua bangku terpisah yang masing-masing terisi satu pasangan yang masih mengenakan seragam SMA.
Menurut dia, banyaknya pelajar yang memanfaatkan lokasi Candi, lantaran mereka sama sekali tak dipungut biaya untuk masuk lokasi. Apalagi, banyak tempat terpencil yang bisa meloloskan mereka dari pandangan pengunjung lainnya.
"Memang lokasinya luas, dan banyak pilihan tempat. Lagipula, lokasi pelataran candi, jauh dari jalan, terangnya.
Kondisi ini kata Harianto, terjadi saat hari aktif sekolah. Sementara di hari libur, lokasi Candi memang menjadi jujugan para wisatawan sesungguhnya. Selain hari libur, lokasi Candi memang hanya dikunjungi segelintir pengunjung saja. Paling-paling, sehari hanya lima pengunjung, tuturnya.
Pada hari-hari libur, Candi yang sempat dipugar tahun 1989-1992 ini memang agak berbeda. Tak hanya wisatawan domestik saja yang singgah. Tak jarang, wisatawan asing juga mengabadikan gambar dan mengagumi bangunan kuno itu.
"Kalau hari libur, banyak pelajar yang kesini. Tapi niatnya bukan pacaran, melainkan ingin megetahui sejarah Candi," terangnya sambil menunjuk buku tamu yang memang mencatat sepinya pengunjung di hari efektif dan ramainya wisatawan di hari libur.
Selain yang datang adalah wisatawan tak sengaja kerap kali juga lokasi Candi dikunjungi rombongan pelajar dari luar kota. Suasana seperti inilah sebenarnya yang membuatnya kerasan menjaga candi. "Harusnya begitu. Lokasi candi untuk belajar, bukan untuk tempat pacaran," harapnya.
(Tritus Julan/Sindo/fit)