BANDUNG - Kurang populernya Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) dibandingkan dengan DPR dalam sistem parlemen Indonesia saat ini, salah satu halnya adalah dipengaruhi oleh hubungan kedua lembaga tersebut terhadap media.
Hal ini mengemuka dalam acara press gathering DPD di Hotel Horrison, Bandung, Sabtu (8/11/2008).
Menurut pengamat politik Refly Harun salah satu cara untuk membuat media tertarik terhadap DPD adalah dengan peningkatan kekuasaan atau wewenang yang dimiliki oleh DPD.
"Ketika DPD bilang ya atau tidak, itu ada gaungnya. Kalau sekarangkan teman-teman wartawan cuek-cuek saja," katanya.
Sementara itu pengamat politik Cecep Effendi berpendapat DPD harus memiliki kepekaan khusus terhadap media. "Misalnya salah satunya pengembangan kantor wartawan harus juga menjadi top priority dalam alokasi anggaran," ungkapnya.
Menurut Cecep apa yang dilakukan oleh DPD terhadap media saat ini belumlah maksimal, sehingga berdampak pada kurangnya akses informasi masyarakat terhadap DPD.
"Misal di Singapura, para wartawan diberi kemudahan dalam hal peralatan informasi tekhnologi. Sehingga dapat dengan mudah melakukan pekerjaannya," katanya.
Selain itu juga menurutnya anggota DPD hendaknya jangan merasa yang dibutuhkan oleh para wartawan. Menurutnya hal-hal simpel yang dapat dilakukan terhadap wartawan akan sangat berguna bagi hubungan personal DPD dengan wartawan.
"Saling tegur dan ngopi bareng misalnya. Itu juga perlu dibina," cetusnya.
Sementara itu Sekjen DPD Siti Nurbaya berjanji akan menyiapkan segala sesuatunya bagi anggota DPD agar dapat berkomunikasi dengan para wartawan. "Saya juga bilang ke Pak Irman (wakil ketua DPD), pers bilang anggota DPD kaya juragan saja, maunya didatangi saja," pungkasnya.(hri)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan