JAKARTA - Krisis ekonomi dan kegagalan transisi demokrasi di Indonesia disinyalir penyebabnya adalah sejumlah partai politik (parpol) besar.
Demikian disampaikan oleh cucu Jenderal besar Soedirman, Bugiakso dalam sebuah acara sarasehan bertajuk "Idealisme dan semangat generasi penerus dalam menghadapi Pemilu 2009 dan krisis ekonomi global'' di Gedung Joeang 45, Jalan Menteng Raya Nomor 31, Jakarta Pusat, Selasa (25/11/2008).
"Rakyat Indonesia khususnya kaum muda Indonesia tidak bisa hanya membiarkan oligarki partai-partai besar dalam mengatasi krisis ekonomi dan transisi demokrasi ini. Karena mereka terbukti telah gagal," tambahnya.
Dia juga mengimbau kepada para aparat pemerintahan, aparat kemanan, dan aparat penegak hukum agar tidak lagi menyakiti hati masyarakat. Karena menurutnya, lanjut Bugiakso, pesan Jenderal Soerdirman sangat jelas, yaitu rakyat tidak boleh menderita melainkan biarlah para pemimpin yang merasakan penderitaan tersebut.
"Jika itu yang terjadi, maka gerakan rakyat 100 persen akan mendukung kepemimpinan nasional," ungkapnya.
Sementara mengenai kontrak karya hasil-hasil sumber daya alam nasional Indonesia, menurutnya, perundingan dengan pihak asing haruslah dalam kondisi yang setara. Harus sesuai dengan kepentingan nasional dan menghargai kekuatan nasional yang ada.
"Tidak sebagaimana kita sekarang yang harus tunduk pada letter of intens dengan IMF, proyek-proyeknya bank dunia, dan perjanjian-perjanjian dalam WTO yang justru membangkrutkan Republik. Menjadikan kita yang semula negara produsen pangan dan migas menjadi negara pengimpor pangan dan migas," pungkasnya.
(lsi)