Aliran Naqsabandiyah Dibawa Syekh dari Makkah

|

PADANG - Aliran Naqsabandiyah di Padang kerap merayakan hari raya berbeda dengan yang ditetapkan pemerintah. Begitu pula pada Hari Raya Idul Adha kali ini. Namun tidak banyak yang tahu seperti apa Naqsabandiyah itu dan siapa yang membawa ajarannya?

Salah satu guru, Surau Baitul Makmur, Syafri Malin Mudo Sati (78) menceritakan kepada okezone saat bertandang ke musala tersebut, Jumat (6/12/2008). Menurutnya, ajaran Naqsabandiyah ini telah masuk ke Sumatera Barat pada 1808 di daerah Piai, Kecamatan Pauh.

Ajaran tersebut dibawa oleh M Tayib, seorang syekh yang berguru di Makkah.

"Aliran ini mengambil ajaran Syafei, salah satu murid Nabi Muhammad SAW. Kemudian masuk di kawasan Sumatera Barat pada tahun 1808 yang di bawahi seorang ulama bernama M Tayib, warga Pauh juga," katanya.

Ajaran ini disambut baik oleh masyarakat saat itu dan berkembang pesat di beberapa daerah yang ada di kawasan kota Padang yaitu, Piai, Pauh, Kuranji, Lubuk Begalung, Bandar Buat, Indarung, dan beberapa daerah lainnya.

"Dalam perkembangannya, untuk di Kota Padang ini ada sekira 50 surau atau musalla. Masing-masing surau memiliki sekira 300 jemaah, jadi diperkirakan jemaah Naqsabandiyah yang ada di Kota Padang mencapai 1.500 orang. Memang kalau shalat Idul Adha ini tidak banyak yang datang, yang banyak itu saat shalat Idul Fitri," ujar Syafri

Selain itu di Kota Padang,  aliran ini juga meyebar di beberapa kabupaten lainnya. Mulai dari Pesisir Selatan, Solok, Lima puluh Kota, dan Pasaman. Selain itu ajaran ini juga menyebar di se-antaro provinsi yang ada di Sumatera, Riau, dan Bengkulu.

(lsi)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Mayat Butet Akhirnya Ditemukan