JAKARTA - Seringnya terjadi perbedaan waktu penetapan hari raya di kalangan umat muslim di Indonesia yakni antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dikarenakan sistem perhitungan yang digunakan berbeda.
Demikian disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidan kepada okezone, saat dihubungi via telepon, Selasa (9/12/2008).
"Dua sistem berbeda yang digunakan oleh dua ormas tersebut dalam menentukan kapan hari raya itu jatuh, yaitu sistem hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah dan sistem rukyat yang digunakan oleh NU," ujarnya.
Amidan menambahkan, hisab yakni dengan paradigmanya wujud hilal atau adanya bulan. "Walaupun setengah derajat di atas wukuf sudah berhari raya. Sedangkan sistem rukyat, melihat bulan dengan mata kepala tapi dia juga melihat hisab sebelum itu. Cuma bedanya sistem rukyat itu kemungkinan bulan bisa dilihat dua derajat di atas wukuf," tuturnya.
Jika ada orang yang mengaku melihat hilal ketika berada di bawah dua derajat, lanjutnya, maka pengakuan orang tersebut terlambat. Sebab, menurutnya di dalam ilmu astronomi hilal atau bulan itu dapat dilihat di atas dua derajat.
Menurutnya, sebenarnya sudah ada rencana dan pembahasan untuk menyatukan kedua sistem perhitungan antara Muhammadiyah dan NU. Namun hingga sekarang belum dapat terealisasi.
(lsi)