JAKARTA - Banyaknya perbedaan dalam merayakan Idul Adha di berbagai daerah, tidak bisa begitu saja diintervensi maupun disalahkan. Pasalnya, mereka memiliki perhitungan sendiri.
Demikian disampaikan anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidan saat dihubungi okezone di Bandung, Rabu (10/12/2008).
"Memang ada pesantren atau tarekat yang mempunyai perhitungan sendiri dan ada ulamanya juga. Yang semacam itu kita tidak bisa intervensi," kata Amidan.
MUI, lanjutnya, akan menyosialisasikan kepada para jemaah yang merayakan Idul Adha dengan waktu berbeda dari ketetapan pemerintah. "Kami lihat dahulu dasar perhitungan mereka apa. Kalau menyimpang dari standar yang telah ditentukan baru akan ditindak," tuturnya.
Selain itu, Amidan menambahkan, sebaiknya hal ini tidak disebarluaskan kepada yang lain. "Jika mereka meyakini hal itu, maka tidak boleh disebarkan ke yang lain," imbaunya.
Seperti diketahui, jemaah Naqsabandiyah di Padang merayakan Idul Adha pada Sabtu 6 Desember. Sedangkan jemaah Syahthariyah sebagian merayakan Idul Adha pada Selasa 9 Desember dan sebagian lagi pada hari ini.
(lsi)