SURABAYA - Empat anak penderita HIV/AIDS saat ini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) dr Soetomo, Surabaya. Seorang Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA) berinisial MR 11, bulan, hingga kini masih menjalani rawat inap di ruang IRNA Anak. Sedangkan, tiga ADHA lainnya menjalani rawat jalan di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) karena kondisi kesehatannya masih cukup baik.
Dari pantauan Sindo siang tadi, kondisi MR terlihat membaik jika dibandingkan sebelumnya. Dia terlihat lelap tidur sementara di mulutnya menyusu botol berisi sari kedelai. Sedangkan, ibunya, MS, terlihat berada di sampingnya dan sesekali mendekap bocah laki laki itu. "Kondisinya sekarang memang lebih baik. Dia tak lagi batuk batuk dan saat ini sudah mau makan," ungkap MS, Senin (23/2/2009).
Bocah asal Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, itu sudah menjalani rawat inap sejak 8 Januari 2009 lalu. Untuk berobat dan menjalani perawatan di RSU dr Soetomo, MS menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa setempat.
Menurut MS, penularan virus HIV/AIDS itu pertama kali berasal dari suaminya, NS yang positif HIV. Namun, saat itu MS telanjur mengandung dan melahirkan anak pertama MS. Karena sering sakit sakitan, MS akhirnya dibawa ke RSU dr Soetomo dengan harapan agar mendapatkan penanganan lebih intensif.
Menurut dr Edi Suyanto, SpF, dari UPIPI RSU dr Soetomo, penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak bisa melalui dua cara yakni melalui cairan darah dalam plasenta saat persalinan secara normal dan kedua melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI) dari ibu ke anak.
"Proses persalinan secara normal pada kasus ibu yang positif HIV/AIDS sangat berisiko terjadinya penularan. Untuk menghindari risiko, proses persalinan harus dengan operasi sectio caesar," ujarnya.
Menurut dia, anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang positif HIV/AIDS kemungkinan bakal tidak tertular sekitar 40-60%. Oleh karena itu, kata dia, sejak bayi lahir hingga usia 1 tahun harus mendapatkan penanganan dan perhatian yang lebih. "Asupan makanan dan nutrisi ke anak harus baik. Itu untuk memperkuat imun dalam tubuhnya," ungkapnya.
Lebih jauh dia mengatakan, anak yang menderita HIV/AIDS tidak selalu harus menjalani perawatan di rumah sakit. Jika kondisinya baik, cukup menjalani pemeriksaan rutin di UPIPI dan boleh pulang. Namun, jika dia menderita sakit oportunistik seperti batuk, pilek, sesak, dan lainnya maka perlu mendapatkan penanganan agar tidak semakin parah.
Menurut Koordinator Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Surabaya, Emi Yuliana Ulya, kasus penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak ini paling banyak karena pertama kali ibu tertular dari suaminya. "Ibu rumah tangga biasa tertular dari suaminya yang sudah jatuh sakit. Nah, pada saat ibu itu hamil dan melahirkan, maka anaknya sangat berisiko ikut tertular HIV/AIDS," ujarnya.
Sebetulnya, kata dia, jika sejak awal diketahui bahwa seorang ibu positif terkena HIV/AIDS maka bisa dilakukan penanganan agar risiko penularan bisa dihindari. Namun, dari kasus yang ada, ibu dan anaknya itu diketahui positif terkena penyakit mematikan itu setelah kondisinya sering sakit sakitan dan menjalani perawatan di rumah sakit.
Dia mengatakan, untuk ibu hamil yang positif HIV/AIDS misalnya semestinya rutin mengonsumsi obat Arv (Anti Retroviral) untuk memperkuat daya tahan tubuh. Begitu pula, jika kondisi daya tahan tubuh anak melemah juga semestinya mengonsumsi obat Arv tersebut.
Dari data yang ada di UPIPI RSU dr Soetomo, hingga akhir Desember 2008, tercatat ada 61 Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA) yang menjalani perawatan. Rinciannya, pada 2004 ada 3 anak, pada 2005 ada 7 anak, pada 2006 ada 6 anak, pada 2007 ada 28 anak dan pada 2008 ada 17 anak. Sedangkan, jumlah penderita HIV/AIDS yang menjalani perawatan di UPIPI hingga akhir Desember 2008 tercatat ada 2.151 orang.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.