Pemborong Beasiswa, 65 Persen Lulusan Diterima PTN

Pelajaran bahasa Inggris yang diberikan salah satu pengajar dari New York. (Tritus Julan?Koran SI)

Pemborong Beasiswa, 65 Persen Lulusan Diterima PTN
MOJOKERTO - Prestasi sejumlah siswa Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah terbilang mencolok. Meski lokasi sekolah berada di wilayah terpencil, mereka mampu mencetak siswa berprestasi.

Tak ada yang istimewa saat memasuki lingkungan sekolah MBI Amanatul Ummah di Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Tempat dalam sebuah belajar mengajar yang masih dalam lingkup pondok pesantren itu berada jauh dari pusat perkotaan. Katakan saja, terpencil.

Selain lokasi yang berada di lereng gunung dan tengah hutan, bangunan yang dimiliki terbilang terbatas. Hanya beberapa lokal ruangan saja yang tersedia. Tak nampak beragam fasilitas yang biasa ada di sekolah dengan julukan "favorit". Semuanya disajikan dengan seadanya, namun terbilang cukup.

Di pojok teras kelas, tampak bertumpukan sepatu siswa yang disandarkan dalam satu kotak meninggi. Sementara di dalam kelas, terlihat beberapa siswa laki-laki lengkap dengan kopiah di kepalanya. Mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan tanpa memakai alas kaki, menjadi kebiasaan khas siswa di sini.

Suasana istimewa menyeruak, saat salah satu siswa melakukan percakapan di luar kelas. Beberapa siswa itu tampak bersenda gurau dengan menggunakan Bahasa Arab. Di sisi lainnya, terdapat kumpulan siswa putri yang juga sedang bercakap, namun dengan menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Nuansa bukan sekolah "biasa" mulai muncul.

Ya, di sekolah ini, siswa-siswi hanya diperbolehkan menggunakan dua bahasa dalam keseharian, yakni Bahasa Arab dan Inggris. Hanya hari Minggu saja, mereka bebas menggunakan bahasa asli, Indonesia. Peraturan seperti ini, salah satunya yang membuat sekolah ini menjadi tempat menuntut ilmu yang istimewa.

Memasuki salah satu sudut ruangan kelas, tampak seorang pengajar bule yang sibuk mengajarkan bagaimana cara menulis sebuah karangan. Tentu saja, bahasa pengantar yang dipakai adalah Bahasa Inggris.

Para siswa laki-laki, yang memang dipisah dengan siswa perempuan, tampak dengan santai menerima pelajaran yang disampaikan. Terlihat mudah menelaah keterangan demi keterangan yang diberikan pengajar bernama Taylor Smith, salah satu pengajar dari New York.

Pengajaran model demikian ini, ternyata mampu mengantarkan 32 siswa MBI Amanatul Ummah meraih sukses di jalur PMDK untuk meneruskan jenjang pendidikan sarjana. Hanya 17 siswa yang gagal mengikuti test masuk perguruan tinggi itu. Terbilang sukses, lantaran para siswa ini merupakan lulusan perdana, sejak tahun 2006 sekolah ini didirikan.

Bukan hanya jalur PMDK yang mulus dilalui. Sebanyak 18 siswa-siswa juga berhasil merebut beasiswa masuk perguruan tinggi negeri yang disediakan Departemen Agama RI. Angka itu, merupakan angka perbebutan tertinggi di tingkat nasional. "Kami beruntung, karena prestasi ini kami dapat saat sekolah baru meluluskan siswa pertama kalinya," terang Koordinator MBI Amanatul Ummah, Achmad Chudori.

Prestasi cemerlang itu tak luput dari kerja keras siswa mengikuti sederetan metode pengajaran yang diberikan sekolah. Tak hanya menggunakan kurikulum nasional, sekolah ini juga menggunakan kurikulum dari Al-Azhar, Kairo, Mesir dan kurikulum dari Cambridge University, London, Inggris. Disiplin ilmu dari multi bahasa itu, mengantarkan para siswa ini dengan mudah menjawab sejumlah test yang diujikan.

"Setelah lulus nanti, para siswa juga mendapat ijazah dari Al-Azhar dan Cambridge University," tukasnya.

Tak gampang memang untuk menuntut ilmu di sekolah ini. Pada angkatan pertama, sederetan tes diberlakukan untuk siswa baru. Mulai dari pretest, matrikulasi, dan posttest. Dalam proses matrikulasi, siswa diajarkan secara intens pelajaran bahasa Arab dan Inggris.

"Selain dua bahasa itu, kami juga memantapkan pelajaran umum," tambahnya.

Paduan antara akademis dan religius yang diberlakukan secara ketat ini, juga mampu membuat sebagian dari siswa berhasil lolos test ujian lebih dari satu perguruan tinggi negeri. "Ada 18 siswa-siswa yang diterima lebih dari satu PTN. Bahkan ada satu siswa yang lolos di tiga PTN," ungkap Chudori bangga. (nov)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pidato Kenegaraan Jokowi Kecewakan GUSDURian