tragedi sukhoi

Kau Memanggilku Malaikat

Devy Lubis - Okezone
Rabu, 13 Mei 2009 15:12 wib

Judul: Kau Memanggilku Malaikat
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: November 2008
Tebal: 272 halaman; 20 cm
ISBN-13:978-979-22-4093-1


Semua orang pasti mati. Kita semua tahu itu. Yang kita belum tahu adalah malaikat yang kita temui saat ajal menjemput. Siapa dan seperti ada ia? Kali ini, Arswendo Atmowiloto memperkenalkannya pada kita.

"Benar kan, kau malaikat?"
"Kau biasa memanggilku begitu. Kalian biasanya menyebutku begitu." (2008:7)

Si "Aku" adalah malaikat, yang datang menjemput setiap manusia menjelang proses kematian. Si "Aku" menolak prosesi penjemputan ini disebut sebagai sebuah tugas. Si "Aku" juga protes bila ia disebut mencabut (nyawa).

Dalam proses penjemputan nyawa yang akan terpisah dari jasad, Si "Aku" tidak tebang pilih. Siapa saja yang menunjukkan getaran kematian, pasti dijemputnya - dengan rasa, ekspresi dan sikap yang sama.

Tak jadi soal buat Si "Aku" bagaimana detil curriculum vitae calon arwah. Apakah dia seorang perempuan tegar dan istri setia Tesarini Soemar; Popon, ahli kriminal alias preman yang dibakar hidup-hidup; gadis cantik yang mati ditembak karena menolak diperkosa, Ife; hingga seekor ayam.

Tidak ada yang aneh pada semua kliennya itu. Selama ini, menurut Si "Aku" semua berlangsung sama. Tidak ada hal-hal khusus, malaikat hanya menemani dan berbincang seperlunya sampai masa perpisahan tiba: manusia yang sudah dijemput harus beranjak ke alam lain.

Hingga suatu hari, Si "Aku" bertemu Di, gadis kecil hampir empat tahun yang juga dijemputnya dari pangkuan kedua orang tuanya. Di berbeda. Si "Aku" hampir saja tidak menyadari Di berbeda. Ada apa dengan Di? Hanya Si "Aku" malaikat yang tahu jawabannya.

Novel Arswendo ini tidak sedang menceritakan satu sisi baik buruk manusia. Bukan pula salah benar jadi malaikat. Tulisan-tulisan di dalam novel tersebut seakan berbicara tentang absurditas senyawa malaikat yang bisa melekat dalam diri manusia. Meski tidak satu pun manusia dalam cerita yang sok jadi malaikat, memang.

Seperti Tesa yang menjalani kehidupan dengan ikhlas, setia dan tulus mengabdi, walaupun seumur hidup ia dikhianati suami dan sempat kehilangan cita-cita. Apakah Tesa sedang berusaha jadi malaikat? Tidak. Tesa hanya menjalani hidup. Toh sejak awal sebelum dijodohkan dengan si suami, ia masih bisa memilih jalan hidup.

Begitu pula dengan Ife yang ditembak mati polisi setelah menolak diperkosa. Ife juga tidak berniat jadi malaikat. Keinginannya sederhana, jadi manusia dan hidup bahagia dengan kesederhanaan yang dimilikinya: jualan.

Sebagaimana Si "Aku", baik Tesa, Ife sampai seorang Di menjalani hidup mengikuti kata hati. Saat mereka berkorban, berbuat baik atau bahkan tidak sadar sedang berbuat baik, mereka tidak melihat itu sebagai tugas atau kewajiban. Mereka hanya tergerak untuk melakukan semua itu, meski mereka tidak bisa seperti malaikat yang memperlakukan semua kliennya sama. Hampir saja!
(mbs)

  • nurhayati » 0 Tanggapan
    wuih.... cerita itu bagus iacgh.... di ceritakan dengan teratur.... d mana bisa membaca lebih lengkapnya iacgh?
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.