TIGA Pasang capres-cawapres sudah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka bersiap untuk adu peruntungan menggondol tiket RI 1 dan RI 2. Melihat gelagat tiga kandidat capres dan cawapres ini, mereka sudah pasti akan berjuang mati-matian agar tidak menjadi pecundang.
Sejauh ini, pasangan SBY-Boediono, disebut-sebut menjadi pasangan yang paling kuat. Mereka memiliki banyak kelebihan dibandingkan pasangan lainnya. SBY adalah incumbent dan didukung oleh partai pemenang Pemilu Legislatif 9 April silam, Partai Demokrat. Sedangkan Boediono, meski pencalonannya mengundang kontroversi, juga memiliki kelebihan sebagai sosok yang disebut-sebut bersih dan penuh kesederhanaan.
Akan tetapi, dua pasangan capres-cawapres lainnya, yakni JK-Wiranto dan Mega-Prabowo juga memiliki sejumlah kelebihan. JK-Wiranto mencoba menyatukan kekuatan Partai Golkar dan Hanura agar tidak berserakan. Mereka pun intens mendatangi tokoh-tokoh masyarakat. Mereka seakan merangkul kubu-kubu yang "sakit hati" dari partai-partai yang berkoalisi dengan Demokrat. Sebut saja JK-Wiranto mampu merangkul Amien Rais (MPP PAN), Ali Mochtar Ngabalin (PBB), maupun Lukman Hakim Syaifuddin (PPP). Belum lagi, sikap PKS yang juga "setengah hati" menerima Boediono.
Boleh jadi, barisan "sakit hati" dari masing-masing partai peserta koalisi Demokrat ini bisa memecah suara. Bahkan sejumlah partai sepertinya juga gamang untuk memberikan sanksi kepada kadernya yang jelas-jelas menyeberang ke pasangan lain. Seperti PAN, meski akan mengeluarkan suarat resmi tentang dukungannya ke SBY-Boediono, tapi tidak akan memberikan sanksi kepada kadernya yang memilih mendukung pasangan lain.
Sikap kader partai anggota koalisi Demokrat yang "terbelah" itu bisa dijadikan amunisi bagi pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo untuk mendulang suara tambahan di luar suara dari partai pendukungnya. Jika ini bisa dimanfaatkan, bisa jadi, Pilpres akan berlangsung dua putaran karena tidak ada pasangan yang mampu meraih suara mayoritas.
Namun, jika pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo tidak bisa memanfaatkannya, dan sebaliknya koalisi Partai Demokrat bisa solid dan meredam "ketegangan" di internal partai pendukung, maka tidak mustahil pasangan SBY-Boediono akan mudah memenangi pilpres hanya dalam satu putaran. Hal ini mengingat di atas kertas, total suara partai pendukung SBY-Boediono sudah di atas 50 persen suara.
Lantas bagaimana jika pilpres harus dua putaran? Ini tentunya akan semakin menarik dicermati. Ada skenario besar, jika pilpres berlangsung dua putaran di mana pasangan SBY-Boediono harus berhadapan dengan salah satu pasangan JK-Wiranto atau Mega-Prabowo, maka akan ada upaya menjadikan pasangan SBY-Boediono sebagai musuh bersama.
Suara JK-Wiranto atau Mega-Prabowo sudah bisa dipastikan tidak akan mengalir ke SBY-Boediono. Jika ini terjadi, maka pada putaran kedua, pasangan SBY-Boediono harus bekerja lebih keras lagi untuk menyakinkan pendukungnya termasuk merebut hati pemilih seperti yang sudah didapatkannya pada Pemilu 2004 silam.
Hitung-hitungan di atas barulah didasarkan pada pengamatan dinamikan politik yang saat ini terjadi. Dalam politik, semuanya serba mungkin. Pihak yang sebelumnya berseteru, bisa jadi akur, jika memang ada kepentingan sama. Demikian juga sebaliknya. Kiranya, kita tunggu saja babak selanjutnya dari ajang demokrasi lima tahunan ini. Semoga semakin menarik dan semakin mendidik.
(mbs)