CIREBON - Refleksi turunnya Presiden Soeharto digelar 11 tahun silam, diperingati puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Barisan Aksi Solidaritas Mahasiswa Untuk Demokrasi (Basis) Cirebon. Mereka melakukan aksi dengan memblokir jalur Pantura.
Pantauan Koran SI, dalam aksi yang digelar sekira pukul 10.30 WIB hingga pukul 11.30 WIB itu sempat membuat macet ruas jalur Pantura tepatnya di jalan By Pass Kota Cirebon sepanjang 2 KM. Namun, untuk menghindari kemacetan yang lebih panjang, jajaran kepolisian mengalihkan arus lalu lintas.
Aksi yang diikuti sekira 30 mahasiswa berawal dengan melakukan longmarch dari depan kampus Unswagati, Jalan Pemuda, Kota Cirebon, menuju jalur Pantura, jalan By Pass yang berjarak sekitar 1 KM.
Saat memasuki perempatan By Pass, mahasiswa langsung menggelar orasi tepat di tengah jalan perempatan By Pass. Aksi blokir berawal dengan menghadang arus lalu lintas ke arah Jakarta selama 20 menit. Antrean kendaraan pun tak bisa dihindari, hingga petugas mengalihkan arus kendaraan ke arah Lapangan Bima.
Beberapa saat kemudian, mahasiswa membakar sebuah ban bekas, tepat di tengah perempatan jalan tersebut. Tak puas dengan memblokir jalan, mahasiswa kembali memblokir arus lalulintas dari arah Jakarta Menuju Jateng.
Tak ayal, antrean kendaraan dari arah Jakarta pun mengalami kemacetan. Petugas kembali mengalihkan arus lalulintas ke jalan Pemuda. Dalam aksi itu, mahasiswa terlihat tidur-tiduran di tengah jalan. Mereka, tidak menghiraukan aksi tersebut membuat kemacetan.
"Aksi ini merupakan ungkapan keprihatinan kami terhadap para penguasa sekarang. Mereka, sama sekali tidak menghormati para pejuang reformasi yang mati syahid dalam memperjuangkan reformasi. Pasalnya, selama 11 tahun paska reformasi kita belum merasakan adanya penegakan hukum terhadap para pelaku kekerasan yang menewaskan pejuang reformasi. Kami jelas kecewa," tegas kordinator aksi, Hendra Yuwanda dalam orasinya, Jumat (22/5/2009).
Dijelaskan Hendra, hingga saat ini para elite politik belum secara serius melakukan penegakan hukum. Terbukti dengan tidak terungkapnya, berbagai kasus pelanggaran HAM seperti, tragedi Semanggi I dan II, Trisakti, dan pembunuhan terhadap aktivis HAM, Munir.
"Kami juga menyangsikan tiga capres yang sekarang berebut kekuasaan, dapat menuntaskan agenda reformasi dan penegakan supermasi hukum. Karena, kami tahu bahwa calon-calon presiden sekarang tidak pernah memiliki niat untuk menyelesaikan persoalan bangsa," tegas Hendra.
Setelah melakukan aksi dan orasi, mereka kembali melakukan longmarch ke kampus Unswagati dan membubarkan diri.
(Tantan Sulton Bukhawan/Koran SI/fit)