getting time...

NEWS » News

Harga Tomat Terjun Bebas, Petani Telantarkan Tanaman

Senin, 25 Mei 2009 04:07 wib

BLITAR - Buah tomat yang terhampar di sawah Kelurahan Sanan Wetan Kecamtan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Jawa Timur itu hampir seluruhnya matang dan ranum. Warnannya menguning semu kemerahan. Namun, hamparan tanaman tomat ini dibiarkan membusuk atau lepas sendiri dari tangkainya.

Sukri (53), pemilik sawah, membiarkannya begitu saja. Padahal buah-buahan ini sengaja ditanam di atas tanah seluas 150 are. Dia juga tidak begitu menghiraukan, ketika beberapa orang yang melintas di sana memetiknya untuk sekadar mengunyah sambil berjalan.

"Kalau sampeyan suka ambil saja. Tomatnya enak kok," ujarnya enteng. Apa yang disampaikan Syukri memang benar adanya. Buah yang banyak mengandung vitamin C ini rasanya manis bercampur masam bercampur dalam perpaduan rasa buah yang demikian segar.

Ya, buah-buah ini memang tidak diserang hama atau mengandung racun pestisida. Semuanya tumbuh sehat sesuai dengan usianya. Yang menjadi persoalan, jika "buah cinta" ini dipetik, apalagi diangkut dari sawah ditransfer ke pengepul, biayanya melambung melebihi harga jualnya.

"Ongkos petik dan angkut panen tomat ini lebih mahal daripada harga tomatnya sendiri," keluh Sukri. Buah yang terkadang berubah status menjadi sayur ini, sebelumnya dihargai Rp1.200/Kg kini terjun bebas menjadi Rp700/Kg. Pedagang pasar bahkan hanya menghargainya Rp200/Kg.

Secara ekonomis, petani yang sudah merogoh kocek jutaan rupiah untuk biaya tanam dan perawatan, dan tampaknya akan semakin merugi jika memaksakan diri memanen tanaman itu.

"Dengan harga Rp 200/kg aja kami sudah merugi. Apalagi kalau panen, kami harus mengeluarkan uang lagi. Ini sama saja sudah jatuh tertimpa tangga," tutur lirih.

Hal senada disampaikan Hasyim, yang mengaku tidak tahu sampai kapan dia dan temannya sesama petani membiarkan tanaman itu. Jika saja para petani memiliki ketrampilan, buah-buah tomat itu mungkin bisa dimanfaatkan menjadi produk minuman atau penganan lain.

Namun kemampuan itu tidak dimiliki para petani di Blitar. "Kalaupun bisa mengolah buah-buahan, kita juga terbentur pada pemasaranya," papar Hasyim. Hasyim hanya berharap, harga tomat kembali membaik. Sebab lahan sawahnya akan segera ditanami kembali.

(Solichan Arif/Koran SI/ded)

  • zainul arifin » 0 Tanggapan
    petani harusnya didampingi untuk memaksimalkan usahanya,gmn menanggulagi hama dan lain2?dan tidak hanya untuk memprodusi bahan mentah aja,tetapi gimana caranya agar prodak yang dihasilkan mempunya nilai ekonomis yang tinggi.dengan tdk menjual langsung bahan mentah lasung tp diubah prodak jadi seperti tomat tdk dijual tomatnya lngsung tapi diubah menjadi saos apa yang lain biar nilai ekonominya lebih tinggi.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Murdiyanto » 0 Tanggapan
    sudah biasa gak pernah petani kecil dapat berita menggembirakan adanya harga anjlok,pupuk mahal susah lagi. berita di internet menggembirakan petani ?
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Murdiyanto » 0 Tanggapan
    sudah biasa gak pernah petani kecil dapat berita menggembirakan adanya harga anjlok,pupuk mahal susah lagi. berita di internet menggembirakan petani ?
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.