getting time...

Perang Bintang Empat di Pilpres 2009

Kemas Irawan Nurrachman - Okezone
Selasa, 26 Mei 2009 11:08 wib

Pemilihan presiden 2009 telah melahirkan tiga kandidat. SBY-Boediono, Mega-Prabowo, JK-Wiranto. Mereka akan "adu kekuatan" untuk meraih kursi nomor satu di Indonesia. Sejumlah strategi telah dipersiapkan agar meraih simpati masyarakat.

Namun yang unik, dalam pilpres kali ini tiga kandidat tersebut menggunakan "jasa" mantan purnawirawan untuk memuluskan jalan meraih predikat Presiden Republik Indonesia.

Jika merujuk dari para kandidat tersebut, wajar jika para mantan jenderal ini ikut turun tangan. Berdasarkan catatan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik (PKSPSP) Ibramsyah semua kandidat mendapat dukungan mantan jenderal.

Sebut saja calon wakil presiden dari Jusuf Kalla, Wiranto. Mantan Panglima ABRI ini disebut-sebut diusung 12  jenderal.

Begitu juga calon mantan wakil presiden Megawati Soekarnoputri, Prabowo. Mantan Danjen Kopassus ini juga disebut-sebut mendapat ?backing' 18 jenderal purnawirawan.

Bahkan, calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga berasal dari kalangan TNI. SBY pernah menjabat sebagai Menko Polkam masa pemerintahan Megawati, dikabarkan mendapat dukungan 12 mantan jenderal.

Kekuatan semua jenderal dikabarkan merata. Pasalnya, setiap pasangan memiliki jenderal senior. Jelas ini merupakan perang adu strategi yang akan menarik untuk disimak dalam Pilpres 2009 mendatang.

Memang, ceruk keluarga TNI/Polri sungguh sangat menggiurkan. Walaupun anggota TNI aktif tidak dapat memilih, namun sejumlah lembaga di antaranya Persatuan Purnawirawan TNI dan Warakawuri (PEPABRI), Persatuan Istri TNI serta Forum Komunikasi Putra Putri TNI (FKPPI) mendapat jatah suara.

Setidaknya 2,9 juta suara dapat diraih jika para kandidat capres serius untuk menggarap suara keluarga TNI/Polri tersebut.

Jadi memang suara-suara tersebut sangat menggiurkan. Sehingga wajar jika sejumlah mantan jenderal turun gunung untuk mengambil suara-suara tersebut, agar jagoannya memenangkan Pilpres 2009.
(kem)