JAKARTA - Manuver aliansi Triple A (Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, dan Agung Laksono) untuk mengambil alih kepemimpinan Golkar dalam musyawarah nasional (munas) mendatang terus dilakukan.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono menegaskan pertemuan-pertemuan para tokoh Golkar tersebut tidak bermaksud menjegal pasangan Jusuf Kalla-Wiranto.
"Tidak ada pembentukan aliansi Triple A itu," kata Agung di Gedung DPR kemarin.
Dia mengaku komunikasi dan pertemuan bersama elite Golkar masih terjadi. Kendati begitu, tidak ada niat untuk menggagalkan peluang pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Sebaliknya, justru mendukung pasangan capres-cawapres tersebut.
Dia juga mengaku tidak tahu-menahu tentang adanya desakan mundur Kalla sebagai pertanggungjawaban kekalahan Golkar di pemilu legislatif.
Sementara itu, fungsionaris DPP Partai Golkar Anton Lesiangi mengaku desakan agar Kalla mundur dari Ketua Umum DPP Partai Golkar pernah dibahas dalam rapat pleno awal bulan ini. Menurut dia, Kalla membuat kesalahan karena tak mampu merealisasikan target 30 persen pada pemilu legislatif.
"Waktu rapat pleno itu, saya yang meminta JK (Jusuf Kalla) mundur karena telah gagal memimpin organisasi. Kalau kemudian yang santer meminta JK mundur adalah Muladi, itu hanya momentum,"tandas Anton.
Wakil Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar Marzuki Darusman mengakui ada perselisihan internal terkait perolehan suara Golkar dan capres yang akan diajukan. Namun, perselisihan tersebut diselesaikan secara kompromi dengan membebaskan kader maju sebagai capres dari parpol lain asalkan tidak membawa simbol organisasi.
"Dengan memberi kebebasan seperti itu,harus diakui berpengaruh terhadap pasangan JK-Wiranto. Tapi, ini sekaligus ujian bagi Golkar," ujar Marzuki.
(Koran SI/Koran SI/kem)