JAKARTA - Terhitung sudah tiga tahun luapan lumpur Lapindo menggenangi hingga melenyapkan rumah warga Sidoarjo, Jawa Timur. Pemerintah pun dianggap gagal menghentikan semburan luapan lumpur sebanyak 100 ribu meter kubik tiap harinya.
Hal itu disampaikan pakar geologi dari Institut Teknologi Bandung, Andang Bachtiar. Menurutnya, pemerintah hanya sekadar bekerja mengalihkan aliran lumpur ke kali Porong untuk kemudian dibuang ke laut.
"Pemerintah tidak punya konsep penanggulangan jangka panjang. Mestinya dilakukan prediksi daerah mana saja yang akan tenggelam atau turun permukaan tanahnya," kata Andang kepada okezone, Jumat (29/5/2009).
Dia menjelaskan, hingga kini kondisi di bawah permukaan pusat semburan lumpur pun belum diketahui. Alhasil, metode penutupan lubang semburan tidak bisa ditemukan. "Pemerintah harus mengakuisisi data terbaru, sehingga kondisi yang sebenarnya bisa diketahui," paparnya.
Bila kondisi pusat semburan tidak diketahui, dia memprediksi akan terjadi penurunan permukaan tanah di sekitar wilayah pusat semburan di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo.
"Ada kondisi di mana lumpur yang keluar diganti masa lumpur baru, sehingga masa itu tersedot ke pusat semburan dan menyebabkan amblas di bagian permukaan tanah lainnya," jelasnya.(lsi) (mbs)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan