CIREBON - Turiah (34) jangankan memiliki hubungan kerja dengan Bupati Cirebon Dedi Supardi, sekadar dikenal oleh orang nomor satu di Kota Udang itu pun tidak. Namun Sabtu 30 Mei 2009, dia nekat mendatangi rumah dinas Bupati itu. Harapannya hanya satu, menyembuhkan buah hatinya, Rizki (1,5) yang mengalami gizi buruk.
Janda warga Blok Tegalmulya RT01/04, Desa Astanamukti, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, yang sudah ditinggal kabur suaminya Urifudin (40) warga Tegal Jateng, mendatangi rumah dinas bupati bersama dua orang anaknya.
Rizki yang sudah di vonis mengalami gizi buruk, tak kunjung henti meringik nangis di pangkuan Turiah. Sementara, anak sulungnya Trisno (3), dengan pakaian kumal, tak banyak bicara. Dia membuntuti ibunya yang tengah berusaha membujuk agar anak bungsunya tidak nangis.
Saat mendatangi rumah dinas Bupati Cirebon , seorang petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) yang tengah bertugas tidak mengijinkan Turiah dan kedua anaknya masuk kedalam pendopo. Seorang di antara petugas menuturkan, Bupati tengah keluar kota .
Tidak berhasil menemui Bupati Cirebon, kerutan wajah Turiah dan tangisan anaknya yang terus merengek menggambarkan kekecewaan. Namun, perjuangan seorang ibu yang menginginkan anaknya sehat seperti kebanyakan anak lainnya tidak surut semangat.
Lantas, Turiah, yang diantar seorang tukang becak asal Desa Kapringan, kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Rahman (35), mendatangi kantor sebuah Koran lokal di Cirebon yang berada sekitar 200 meter dari kantor bupati Cirebon.
"Saya datang ke rumah bupati untuk meminta pertolongan anak saya yang kekurangan gizi. Namun, pak Bupatinya katanya lagi keluar kota. Kedatangan saya ke sini mudah-mudahan pak wartawan bisa menolong saya berobat," tutur Turiah, di halaman belakang kantor tersebut.
Dituturkan Turiah, anak bungsunya divonis kekurangan gizi saat dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Waled kabupaten Cirebon beberapa waktu lalu. Namun, setelah beberapa hari dirawat, anaknya tak kunjung sembuh hingga dirinya nekat membawa pulang. Alasannya, karena sudah tidak sanggup lagi membeli obat dan biaya perawatan.
"Saya juga pernah membawa anak saya ini ke Dokter. Awalnya, kondisinya lumayan membaik karena diberi obat. Namun, karena saya tidak balik lagi ke dokter dan tidak mampu membeli obat kondisi anak saya lemah lagi," keluh Turiah.
Pada saat berobat ke dokter, anak bungsu Turiah telah divonis mengalami gizi buruk. Karena tidak mendapatkan perawatan rutin, berimbas kepada munculnya penyakit lain seperti paru-paru basah dan liver.
Turiah menuturkan, dengan berbekal surat keterangan tidak mampu. Dia membawa anaknya ke Puskesmas pangenan. Namun, petugas Puskesmas menolak dan menyarankan agar anaknya dibawa ke rumah sakit.
"Puskesmas malah meminta agar dibawa kerumah sakit. Karenanya,, hari ini saya nekat mau meminta bantuan kepada bupati," tuturnya.
Setelah menceritakan kisahnya, Turiah diantar tukang becak tersebut menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunung Jati Cirebon. Hingga sore kemarin, Turiah dan anaknya masih berada di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Gunung Jati.
(Tantan Sulton Bukhawan/Koran SI/fit)