GEROMBOLAN - Jabalan (penyamun) dipimpin Medasing merampok rombongan saudagar kopi yang sedang berada dalam perjalanan di liku Endikat, perbatasan Pagaralam-Lahat, Sumatera Selatan.
Sang saudagar dan para pengawalnya tewas dibunuh enam begal yang ganas. Mereka merampas harta-benda, lantas menculik Sayu - anak gadis perawan semata wayang saudagar itu, dan melarikannya ke dalam hutan. Lama-kelamaan dalam rimba belantara yang dinaungi Gunung Dempo dan pegunungan Bukit Barisan - perasaan Sayu berubah. Dia jatuh cinta pada Medasing, penculiknya....
Cuplikan kisah tadi muncul dalam Anak Perawan di Sarang Penyamun, novel tua karangan Sutan Takdir Alisjahbana, yang konon ditulisnya saat jadi guru HKS di Palembang (1928-1929). Novel itu sempat laris dibaca penggemarnya saat diterbitkan Balai Pustaka (1941).
Mengadaptasi alur cerita dari novel itu, Vebri Al Lintani menulis naskah sastra lakon Gadis Perawan di Sarang Jabalan. Teater Gaung dari Palembang memanggungkan naskahnya di Aula Samudera, Pusat Bahasa, Jakarta (22-24 Oktober 2009). Naskah itu kembali dipentaskan teater yang sama di panggung Auditorium RRI Palembang, pada Jumat-Minggu (29-31/5/2009).
Para pelakon seperti Teguh Ireng, Defah Mayasari, Darto Marelo, Yohanna, dan Erwin Janim terlibat dalam suguhan itu.
"Kali ini pentasnya lebih utuh dengan kolaborasi musik etnik, sastra tutur, dan teknologi siluet," kata Amir Hamzah Arga, sutradara.
Aksi Perampokan
Banyak orang yang mengira bahwa masyarakat agraris tradisional, artinya pra-industri dan teknologi, bersifat sangat sedentair atau menetap. Selalu ada anggapan bahwa petani-petani atau orang-orang zaman dahulu hidup dalam desa-desa sekaligus menjadi batas visi-visi orang petani yang hidup saling terisolasi satu sama lainnya.
Gambaran mengenai masyarakat tradisional ini sama sekali tidak benar. Mobilitas dari masyarakat praindustri tinggi sekali. Dari mobilitas fisik (pengembaraan) tinggi ini berasal gejala menggelandang atau mengembara (Onghokham: Gelandangan Sepanjang Zaman, hal 4-5).
Mobilitas fisik ini menyebabkan Belanda menulis dalam laporan-laporan mereka mengenai trekkers en zwervers (Th. Pigeaud: Javaanse Volksvertoningen, Batavia, Volkslectuur, 1938) - para pengelana zaman dahulu - orang-orang yang tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal tetap.
Didekati dari pendapat Onghokham serta pemahaman Th. Pigeaud, maka gerombolan Medasing dan kawan-kawan serupa pengelana yang mobilitas fisiknya hidup dari melakukan tindak kriminal. Cara penjahat mencegat korban di tengah jalan dalam kawasan berhutan-hutan di Sumsel, hingga kini terkenal sebagai "bajing loncat" menurut Ajun Komisaris Besar Polisi Abusoppah dari Polda Sumsel.
Kriminal, yakni prototipe ?bajing loncat', yang ditulis Alisjahbana sebagai ?penyamun' dikuatkan kamus bahasa menyebutnya ?samunan; penyamunan' berarti ?perampasan di jalan; pembegalan'. Budaya yang hidup di Sumsel itu berikutnya dilanjutkan dalam ?jabalan' oleh Lintani (2008) sebagai peran dan implikasi kultural terhadap karya sastra lakon.
Jatuh Cintanya Gadis
Sindrom Stockholm berupa respons psikologis yang terjadi dalam diri seorang sandera yang diculik; ketika si sandera itu menunjukkan kesetiaan kepada penculiknya, tanpa menyadari bahaya atau risiko yang mereka hadapi. Kondisi tersebut dinamakan Sindrom Stockholm setelah perampokan Norrmalmstorg of Kreditbanken di Norrmalmstorg, Stockholm. Para perampok menyandera para karyawan bank itu sejak tanggal 23 sampai 28 Agustus 1973.
Dalam kasus ini, korban penculikan lama-kelamaan merasa terikat secara emosional dengan para penyandera, dan mereka bertahan disandera untuk membela penculiknya, bahkan setelah terjadi kesepakatan pembebasan pada enam hari kemudian. Istilah "Sindrom Stockholm" dimulai oleh kriminologis dan psikiatris Nils Bejerot, yang membantu polisi selama perampokan itu terjadi, dan menjelaskan adanya kondisi kejiwaan tersebut melalui siaran berita radio.
Sayu dan Medasing: dua orang dewasa yang terlibat begitu dekat secara emosional, justru dalam posisi yang saling tidak menguntungkan. Gadis itu dibawa lari ke tengah hutan sebab barangkali Medasing kira tak seorang pun rombongannya selamat.
Dalam novelnya, STA memaparkan bahwa Medasing tidak mengerti cinta Sayu lantaran sang lelaki jabalan tak pernah kenal perempuan. Vebri mengupas ketidaktertarikan Medasing karena tidak ingin ilmu kesaktiannya hilang, dia jadi berpantang membalas cinta Sayu.
Sedangkan dari sisi Sayu - jelas, gadis itu menderita Sindrom Stockholm. Peran dan implikasi psikologis muncul terhadap karakternya.
Tapi di plot ini ada sela untuk berdebat: Mengapa yang muncul di tengah hutan justru rasa Sayu jatuh cinta bukan keinginan memberontak atau melawan? Padahal, bukankah bapang (ayahnya) tewas dibegal mereka? Tidakkah mungkin ada dendam-kesumatnya melihat kebrutalan Medasing?
Tobatnya Jabalan
Medasing, setelah jadi penjahat, akhirnya bertobat. Banyak orang pernah mendengar riwayat Anton Medan atau Jhoni Indo: keduanya dulu preman kawakan yang menemukan pertobatan dan sekarang jadi pemuka agama. Bagaimana antagonis (tokoh jahat) berubah sebagai protagonis?
Para penonton Gadis Perawan di Sarang Jabalan karya Teater Gaung di Auditorium RRI Palembang, Jumat-Minggu (29-31/5/2009), yang akan mengetahui sebab-musababnya dalam sebuah pertunjukan kebaikan.
(fit)