BANTUL - Limbah cair pabrik gula PG. Madukismo, Yogyakarta yang dinyatakan berbahaya ternyata masih dipercayai oleh warga dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Bahkan larangan yang dipasang di tepi jalan oleh PG Madukismo dan Pemkab Bantul seakan hanya menjadi pajangan semata. Warga tak menghiraukan apa yang menjadi larangan dari PG Madukismo dan tetap berendam di selokan pembuangan limbah yang airnya sudah berbau dan tampak kehitaman itu.
Hal ini terbukti dengan adanya sejumlah orang yang tampak berendam tepat pada aliran limbah di belakang tembok pabrik tepatnya di wilayah RT 10 Rogocolo, Tirtonirmolo, Kasihan. Bahkan untuk orang yang ingin berendam, warga memfasilitasi dengan menyediakan tempat duduk dari bambu yang diletakkan melintang di atas aliran sungai. Tidak hanya itu, apabila ingin berendam dengan air jernih yang langsung dikeluarkan pabrik, warga menunjukan saluran utama pembuangan di belakang pabrik.
Antok salah seorang warga dari Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul yang sedang berendam ketika ditanya mengatakan dirinya tidak mempedulikan larangan yang dikeluarkan oleh yang berwenang.
"Usai berendam penyakit gatal-gatal pada kulit saya sembuh. Kenapa harus dilarang," ujarnya, Selasa (2/6/2009).Dia mengaku tidak jijik melihat limbah cair PG Madukismo yang tampak hitam disertai serbuk hitam abu dengan bau yang cukup menyengat.
"Biar air limbah ini mengandung e-coli saya tidak peduli. Yang penting penyakit saya bisa sembuh," tandasnya.
Tak jauh dari lokasi berendamnya Antok, tampak sepasang suami-istri yang juga sedang berendam pada limbah cair. Namun sayang ketika dimintai komentar kedua pasutri tersebut enggan menjawab.
Dayat warga setempat mengatakan, warga tidak dapat melarang keberadaan orang-orang yang datang berendam di sana. Karena selain merasa tidak berhak, kedatangan orang-orang yang berendam di sungai itu juga mendatangkan rejeki.
"Dari parkir dan menyediakan tempat mandi untuk membilas badan, warga memperoleh penghasilan tambahan. Bila perlu, tolong sampaikan jika memang ingin berendam datang saja ke sini. Warga sini saja setiap sore juga berendam," jelasnya.
Namun sayangnya, Dayat menyatakan, sejak dibuangnya abu pembakaran ke sungai, dulunya bertebaran ke udara. Terjadi pencemaran di sumber mata air sumur milik warga yang tidak jauh berada dari sungai. Selain berwarna agak keruh, bau air juga sedikit manis namun bercampur bau amis.
"Untuk mandi memang tidak ada masalah, namun ketika digunakan untuk konsumsi semisal masak dan air minum, air haruslah direndam dahulu semalam suntuk. Baru bisa digunakan," jelas Bu Mangunwijoyo yang menunjukkan air sumurnya
lebih jauh dia juga menceritakan bahwa dari air rendaman, di lapisan bawah terdapat endapan setinggi jari telunjuk orang dewasa berwarna coklat dan bergerak-gerak seperti binatang hidup. Tidak hanya itu, bila dibiarkan terlalu lama di bak penampungan atau kamar mandi, muncul sesuatu yang seperti lumut berwarna hitam dan jumlahnya banyak sekali.
Warga menurutnya sudah melaporkan ini ke sesepuh desa, namun hingga sekarang belum ada tanggapan dari pemerintah maupun pihak pabrik. Padahal masuknya limbah pabrik ke sumur itu sudah diketahui oleh pegawai puskesmas yang beberapa hari lalu datang.
"Di atas terdapat tiga saluran, dua mengalirkan air limbah berwarna jernih, sedangkan yang satunya sudah bercampur abu pembakaran. Yang terakhir itu oleh warga dibendung dengan menempatkan karung berisi pasir agar tidak terlalu mencemari sungai," imbuh Parman, warga lain yang ditemui.
(Daru Waskita/Trijaya/fit)