o1 o2

News


Puluhan Imigran Gelap Terdampar di Sumba Timur

Kamis, 4 Juni 2009 - 10:08 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Rahmat J - Okezone

KUPANG - Sekelompok nelayan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur menemukan 59 imigran gelap asal Afghanistan dan Pakistan serta empat awak kapal yang ditumpangi terdampar perairan Maukawini, Rabu siang 3 Juni 2009. Para imigran ini rencananya akan berlayar ke Australia, namun perahu yang ditumpangi dihantam badai dan gelombang laut sehingga menyebabkan salah satu mesin mengalami kerusakan. Saat ini para imigran diamankan pihak kepolisian.

Kapolres Sumba Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Tetra M Putra yang dihubungi Kamis (4/6/2009), mengatakan, para imigran menggunakan sebuah Kapal Motor Putera Negara asal Bima, Nusa Tenggara Barat.

"Sejumlah warga dipesisir pantai dan beberapa nelayan yang pertama kali menemukan kapal bermuatan imigran gelap tersebut. Ketika itu kapal sudah dalam keadaan miring karena mengalami kerusakan mesin. Warga langsung melaporkan kasus ini ke aparat kepolisian," ujar Tetra.

Selain menangkap imigran asal dua negara itu, menurut Tetra, pihaknya juga telah mengamankan empat anak buah kapal yang terlibat penyelundupan manusia itu. "Dari hasil penyelidikan bahwa mereka ingin ke Australia karena ada gejolak politik di negara asal mereka," lanjut Tetra.

Dia menambahkan, hanya satu imigran gelap yang mengantongi paspor, tetapi masa berlakunya sudah berakhir. Ali Bismil (30) salah satu imigran asal Afganistan mengaku, menumpang kapal tersebut dari Bima, tanggal 26 Mei lalu dan sempat singgah di Singaraja-Bali.  

"Kami membayar USD1.000 sampai 3.000 dengan perjanjian sampai ke Australia. Bahkan, kami dijanjikan untuk memperoleh konsumsi tiga kali sehari. Kenyataanya, kadang kami tidak makan sampai akhirnya kapal rusak dan kami harus terdampar," kata Ali.

Ali Bismil, adalah salah satu imigran asal Afghanistan yang melarikan diri dari penampungan imigran milik UNHCR di Bogor. "Saya lari dari tempat penampungan karena tidak ada kepastian tentang nasib kami. Di antara kami, tidak saling kenal karena hanya bertemu di atas kapal. Perahu disiapkan oleh orang kepercayaan dan kami bertolak dari Singaraja, Bali," lanjut Ali.

Pengakuan yang sama disampaikan Fatma, imigran wanita asal Pakistan. Menurutnya, ia bersama tiga orang anaknya, masing-masing Shadov (12), Meidi (3) dan Sabah (1,5) pasrah dengan kondisinya saat ini.

"Kami ingin mencari negara yang aman untuk hidup lebih baik. Apapun yang terjadi, saya dan keluarga tidak akan kembali ke Pakistan," katanya.

Salah satu awak kapal mengatakan, tidak mengetahui kalau orang-orang yang menyewa kapal mereka itu imigran gelap yang hendak ke Australia. "Saya hanya disuruh juragan untuk membawa mereka ke Pulau Rote, pulau terselatan Indonesia dengan bayaran Rp2 juta," kata awak kapal yang mengaku bernama Adhar (27).  

Menurutnya, kapal tersebut merupakan kapal barang dengan kapasitas muatan 40 ton. Bupati Sumtim, Gidion Mbilijora, yang dihubungi terpisah, mengatakan, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan gubernur dan pihak terkait untuk penanganan selanjutnya.
(fit)

Bagi Pengguna Ponsel, BlackBerry Nikmati Berita Terkini Di http://m.okezone.com
Share
 Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?

Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan
o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

  • Minggu, 21 Maret 2010 06:06 wib

    Sambut Jakarta Cerah di Pagi Hari

  • Minggu, 21 Maret 2010 05:03 wib

    Reformasi Polri Baru Sebatas Slogan

  • Minggu, 21 Maret 2010 04:11 wib

    Koalisi dengan PDI Perjuangan

    Demokrat Akan Libatkan Mitra Koalisi Lainnya

  • Minggu, 21 Maret 2010 03:00 wib

    Cek Pelaksanaan UN, Foke Tinjau 3 Sekolah

  • Minggu, 21 Maret 2010 02:00 wib

    Jakarta Siap Laksanakan Ujian Nasional

  • o3 o4