JAKARTA - Tender pengadaan armada bus Transjakarta koridor VIII, IX dan X harus segera diselesaikan, karena infrastruktur bernilai milyaran rupiah sudah mulai rusak.
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta Sarwo Handayani mengatakan, Pemprov mendesak agar Badan Layanan Umum (BLU) mempercepat tender armada koridor VIII (Lebak Bulus-Tomang), koridor IX (Pinang Ranti-Pluit), koridor X (Cililitan-Tanjung Priok).
Katanya, BLU akan dipanggil untuk menjelaskan mengapa proses tender tidak kunjung dilakukan, padahal infrastruktur ketiga koridor tersebut sudah tersedia. "Kami harap segera mungkin dilakukan," tegas Sarwo kepada wartawan, Jumat (5/6/2009).
Mantan Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta itu menambahkan, sesuai jadwal yang ditentukan seharsusnya tender sudah selesai April lalu. Kemudian dapat dilanjutkan dengan jadwal pengoperasiannya pada November mendatang.
"Tender koridor VIII, IX, dan X sedikit bermasalah terkait dengan karut marutnya proses lelang koridor IV (Pulogadung-Dukuh Atas), V (Kampung Melayu-Ancol) dan koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas) yang hingga kini masih diproses di Badan Arbitrase Nasional (BANI)," terangnya.
Sementara Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Rachmatsjah mengatakan, terbengkalainya ketiga koridor tersebut membuat infrastruktur yang telah terbangun menjadi mubazir dan semakin rusak jika tidak segera digunakan.
"Ini kan menjadi mubazir dan boros, karena ada biaya listrik dan biaya penjagaan yang harus dikeluarkan," imbuhnya.
Anggota Fraksi Keadilan Sejahtera (FPKS) ini menuturkan, belum beroperasinya ketiga koridor itu sebagai penunjuk bahwa Pemprov DKI Jakarta maupun pengelola bus Transjakarta tidak memiliki perencanaan matang.
"Pembangunan infrastruktur telah menelan daya milyaran rupiah. Contohnya, untuk koridor IX sepanjang 29,9 km menelan hingga Rp135,68 miliar, sementara Rp102,60 miliar untuk koridor X sepanjang 19 km," pungkasnya.
(Neneng Zubaidah/Koran SI/lsi)