SIDOARJO - Puluhan penambak yang berada di kawasan Desa Permisan, Kecamatan Porong dan sekitarnya harus menelan kerugian cukup besar. Pasalnya, udang windu ditambak mereka mulai mati diduga karena tercemar air lumpur.
Ketika melihat gejala banyak udang windu yang mengambang ditambak, mereka menemui BPLS dan minta agar air lumpur jangan sampai dibuang ke sungai yang mengalir ke kawasan tambak mereka. "Udang ditambak kita banyak yang mati, padahal belum waktunya panen," ujar Saiful Bahri, petambak asal Permisan, Senin (8/6/2009).
Selama ini sebenarnya warga sudah sering memprotes pembuangan air lumpur ke Kali Ketapang yang mengalir ke kawasan pertambakan. Namun, BPLS tidak bisa berbuat banyak karena kalau air lumpur di sebelah utara pusat semburan tidak dibuang tanggul dikhawatirkan jebol.
Pasalnya, selama ini pembuangan lumpur ke Sungai Porong tidak maksimal. Padahal semburan lumpur terus keluar dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti. "Kalau udang di tambak kami mati, petambak yang dirugikan," imbuh penambak lainnya.
Kematian udang petani tambak masih diteliti lebih lanjut. Karena selama ini banyak udang mati dikarenakan penyakit White Spot, semacam virus yang membuat udang mati perlahan. Kulit udang kekuningan, kemudian melayang dan mati seperti direbus.
AKibat kematian udang, penambak mengalami kerugian puluhan juta rupiah. "Kalau sudah waktunya panen, mungkin bisa kita panen dan masih menghasilkan. Tapi udang ditambak belum waktunya panen, sehingga kerugian semakin banyak," aku penambak lainnya.
Humas BPLS, Ahmad Zulkarnain, Senin (8/6/2009) siang masih bersama penambak di lokasi tambak udang yang mati. Dia berdialog dengan petambak terkait kondisi itu.
"Kita akan meneliti apakah udang itu mati karena air lumpur. Untuk pembuangan air lumpur sudah kita atur, sehingga tidak terus menerus," tandasnya.
(Abdul Rouf/Koran SI/fit)