getting time...

NEWS » News

Di Mata Sahabat, Sartono Pria Ceria dan Kritis

Jum'at, 12 Juni 2009 14:31 wib

JAKARTA - Psikolog senior Sartono Mukadis tutup usia, setelah sakit cukup lama, bahkan dua tahun belakangan harus harus rutin menjalani cuci darah akibat gangguan ginjal. Di mata Niniek L Karim, psikolog yang juga sahabat dekat Sartono Mukadis, almarhum dikenal hangat, ceria, kritis dan berani.

"Sejak saya masuk kuliah, saya sudah mengenal beliau. Beliau adalah orang yang hangat, selalu membuat ceria lingkungannya. Lelucon-leluconnya yang orisinal dan selalu berusaha untuk dekat dengan semua orang," ujarnya saat melayat di rumah duka, Jalan Pinang, Kalijati, Pondok Labu, Jakarta, Jumat (12/6/2009).

"Itu sosok beliau sebagai teman, sebagai ayah, sebagai sahabat, sebagai saudara. Tapi beliau juga seorang analis, yang menurut saya kritis dan berani. Bukan hanya sekadar bisa, tapi berani berjarak dengan subyek dan obyek tentang sesuatu pembicaraan," sambung Niniek yang mantan aktris itu.   

Dia menuturkan, dalam situasi negara yang sedang berkembang dan mencari jati diri ini, tentunya membutuhkan figur seperti Sartono Mukadis. "Kita kehilangan, tapi kami juga merasa lega karena terlalu lama menderita (sakit)," imbuh Niniek.

Menurutnya, keluarga dan sahabat merasa sudah banyak yang diperbuat almarhum secara langsung dan tidak langsung dalam arti kritikannya agar lebih mawas diri.

Niniek menuturkan terakhir bertemu dengan sartono sekitar sebulan yang lalu. "Karena saya bertemen dengan beliau baik di psikologi maupun di luar psikologi. Selain itu secara tidak langsung masih ada hubungan keluarga. Jadi cukup sering ketemu beliau," ungkap Niniek.

Dia menambahkan, meski dalam kondisi sakit, psikolog senior dari UI ini selalu menyempatkan hadir bila ada undangan. "Selalu berusaha untuk menyenangkan orang lain," pungkas Niniek.


(Farid Rusdi/Trijaya/ram)