TERNATE-Awan hitam tengah menyelimuti dunia pendidikan di Maluku Utara. Gagalnya lebih dari setengah siswa sekolah menengah atas melewati tahap akhir pendidikannya seakan membuka aib lama dan mencoreng wajah dunia pendidikan.
Ya, peristiwa tidak lulusnya 40-an persen siswa di tahun 1997 dalam ujian akhirnya terulang kembali. Roda seakan berputar lagi kebawah. Namun, kali ini lebih memiriskan lagi di mana hanya 49 persen saja siswa yang dinyatakan lulus Ujian Akhir Nasional (UNAS) tahun 2009.
Gejolak pun bermunculan. Tidak sedikit yang depresi akibat gagal menyelesaikan etape terakhir dari perjalanan panjangnya selama 12 tahun duduk di bangku sekolah.
Di Jailolo, Halmahera Barat, Lutfi Badul dan Hamdi Harun, dua juara olimpiade Fisika dan Ilmu Kebumian kabupaten tersebut akhirnya mengembalikan piagam yang mereka terima karena kecewa tidak lulus Unas. Beban juara yang mereka pikul rupanya tak sanggup mengantarkan keduanya untuk lulus ujian.
Tentu saja ini memunculkan polemik. Keakurasian penerapan sistem komputerisasi dalam pemeriksaan hasil ujian pun makin disoroti. Bukan hanya dua siswa itu saja, para guru pun kemudian bertanya-tanya. Pertanyaannya, benarkah mereka tidak lulus karena tidak mampu menyerap mata pelajaran selama duduk di bangku sekolah?
Pasalnya, lima rekan mereka justru dinyatakan lulus. Padahal, kelima dari enam siswa SMU Islam Jailolo yang lulus itu tidak mengikuti ujian. Ada apa ini?
Bukan hanya di Jailolo saja, seorang siswa SMU 1 Bacan, Halmahera Selatan yang tidak ikut ujian juga dinyatakan lulus. Akhirnya, pihak sekolah memilih untuk belum mengumumkannya hingga saat ini sambil berkoordinasi dengan pihak Dikjar propinsi Maluku Utara.
Di Ternate sendiri, SMUN 1 yang digadang sebagai sekolah bertaraf internasional dan merupakan unggulan, justru hanya meluluskan 40 persen siswanya. Bahkan, untuk jurusan IPS hanya meluluskan 9 dari ratusan siswa.
Sementara di Bacan, Halmahera Selatan, tepatnya di SMUN 2 Bacan, seluruh siswa di sekolah tersebut dinyatakan tidak lulus. Sementara di beberapa sekolah lainnya, hanya meluluskan satu atau dua siswanya saja.
Para siswa yang digembleng untuk berpikir dan bertingkah laku yang cerdas, terpaksa berbuat hal aneh dalam melampiaskan kekecewaan mereka. Contohnya, salah satu siswa di Ternate yang dikenal sebagai anak yang santun, nyaris meregang nyawa akibat overdosis saat mengkonsumsi minuman keras.
Malahan, Mandarash Aliyah Negeri (MAN Model) Ternate, yang dikenal sebagai sekolah yang mendidik siswa bermental agamais, justru harus mengalami kerusakan akibat ulah segelintir siswanya yang marah karena tak diluluskan.
Bukan hanya di sekolah tersebut, pihak kepolisian Ternate terpaksa menerjunkan porsonilnya untuk mengamankan sejumlah sekolah yang diprediksi rawan pascapengumuman kelulusan Unas pertengahan pekan lalu.
Di SMUN 2 Ternate di kawasan Ubo-ubo, sejumlah siswanya yang dinyatakan tak lulus melakukan aksi kurang terpuji dengan melempari sekolah dan mencoba merusak pagar sekolah tersebut.
Rencana pesta kelulusan yang sudah disiapkan sejak pagi, langsung batal. Padahal di antara yang tidak lulus itu, banyak yang sudah terlanjur mencoret bajunya dengan cat layaknya siswa yang telah lulus sebagaimana tradisi setiap tahunnya.
Sebagian di antaranya malah jatuh pingsan. Sementara beberapa siswa lainnya tampak sibuk menenangkan rekan mereka yang berteriak histeris karena dinyatakan tak lulus ujian akhir nasional (Unas), Kamis (18/6/2009) sore.
"Hasil ujian yang sangat tak adil. Upaya kami dalam belajar selama 12 tahun ini rusak," lirih Nona (18) yang tak lulus sambil terisak pada okezone.
Untuk Maluku Utara saja, tahun ini bisa dibilang terburuk dalam tingkat kelulusannya. Secara umum, total siswa di Malut yang mengikuti Unas sebanyak 12.409 siswa.
Namun yang dinyatakan lulus oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) hanya berkisar 69,3 persen dari 11.024 siswa SMU/MA dan 82,7 persen dari 1.385 siswa SMK. Dengan demikian bisa dipastikan siswa SMU/SMK/MA di Malut yang tidak lulus sebanyak 3.628 siswa.
Ternate sendiri secara total jeblok dalam urusan meluluskan siswa SMU-nya di mana lebih dari setengah siswa dinyatakan tak lulus. Tingkat kelulusan siswa SMU di Ternate hanyalah 49,15 persen saja. Namun, untuk prestasi terburuk dialami kabupaten Halmahera Barat yang hanya meluluskan 42,14 persen siswanya.
Hal kontras justru terjadi di kota Tidore Kepulauan (Tikep) dan kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul). Bahkan, untuk kota Tikep berhasil 100 persen meluluskan para siswa SMK-nya.
Kepsul tertinggi dalam meluluskan para siswa SMU dengan presentasi 91,55 persen dan 84,74 persen kelulusan siswa SMK. Ternate sendiri menempati posisi dua untuk kelulusan SMK dengan 90,34 persen. Persoalan-persoalan pasca Unas itu, menimbulkan pertanyaam, apakah ada yang salah dalam dunia pendidikan kita?
(fit)