SEMARANG - Tri Sulistiono (21) Tanjungsari IV RT 7 RW 2 Sumurboto Banyumanik Semarang mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke dalam sumur. Perbuatan nekat tersebut diduga karena dia stres lantaran tak lulus Ujian Nasional. Dia diduga menceburkan diri ke dalam sumur pada Rabu pagi (24/6/2009) namun baru diketahui siang tadi.
Jasad korban ditemukan setelah sumur sedalam 14 meter itu dikuras oleh tetangga korban. Pada malam sebelum kejadian, korban nampak tak tenang dengan keluar masuk kamarnya. Hal itu membuat ayah korban, Saban (50), sampai tidak bisa tidur. Tri Sulistiono tidak lulus Ujian Nasional di SMA Mardisiswa tahun 2007.
"Saya terus mengawasi dia. Namun pada pukul 02.00 dia keluar rumah. Terus saya ikuti namun akhirnya saya kehilangan jejak karena kondisinya gelap. Karena tak berpikiran macam-macam lantas saya pulang dan tidur. Tapi paginya saya melihat kamar Tri masih terlihat kosong," cerita Saban.
Melihat itu maka Saban langsung mencari anak bungsunya tersebut. Lalu Saban melihat sumur yang persis di samping rumahnya mencurigakan karena tutup sumur terbuka dan talinya juga juga sudah berpindah tidak seperti biasanya.
"Karena curiga saya suruh Royan, Bandi dan Giyanto untuk untuk menguras sumur," ujarnya.
Saking dalamnya sumur itu pengurasan baru selesai sekitar pukul 12.00. Saat air surut ketiga penguras itu melihat Tri Sulistiono sudah dalam kondisi tewas di dasar sumur.
"Saya sangat shock melihat Tri tewas. Saya lalu suruh orang angkat anak saya," kata Saban lirih.
Karena pengangkatan jenazah dengan memakai alat seadanya maka prosesnya sangat lama. Setelah disemayamkan akhirnya beberapa warga melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Banyumanik dan diteruskan ke Mapolresta Semarang Selatan.
"Anak saya melakukan perbuatan nekat ini lantaran stres. Sejak tidak lulus UN tahun 2007 yang lalu dia sering sering tertawa dan marah-marah sendiri. Sempat juga mau kami bawa ke RSJ namun dia malah marah-marah. Dia sukanya juga keluyuran tanpa jelas mau kemana," ungkap Saban.
Saban mengatakan dulu pernah menyuruh Tri untuk ikut ujian ulang tapi dia tak mau. Sehari-hari Tri hanya mau nonton televisi.
Namun beberapa tetangganya mempunyai dugaan lain. Ada kemungkinan Tri melakukan bunuh diri lantaran kecewa tidak dibelikan sepeda motor oleh bapaknya.
"Padahal Pak Saban baru saja dapat uang ganti untung penjualan tanahnya yang kena proyek jalan tol Semarang-Solo sebesar Rp 800 juta," jelas tetangga korban yang tak mau disebutkan namanya.
(fit)