getting time...

NEWS » Opini

Krisis dalam Demokrasi Iran: Biasa atau Luar Biasa?

Rabu, 24 Juni 2009 09:47 wib

Aneh tapi nyata, rakyat Iran sekarang sangat peka dengan demokrasi. Bagi mereka yang hidup semasa Ayatollah Rohullah Khomeini 20 tahunan lalu, demonstrasi yang marak saat ini adalah suatu kemustahilan.

Merebaknya internet dan semangat kebebasan di seluruh dunia ternyata berdampak besar pada generasi muda Iran. Tidak tanggung-tanggung, kaum muda mulai berani mempertanyakan kredibilitas pemerintah yang sebenarnya telah terpilih secara demokratis empat tahun silam. Krisis ternyata bersumbu pada pernyataan Mir Hossein Mousavi, kandidat presiden reformis yang banyak didukung kaum muda, yang menuduh Ahmadinejad melakukan kecurangan pemilu. Gayung ini disambut tim nasional sepak bola Iran yang 5 pemain intinya menggunakan gelang hijau pertanda mendukung Mousavi.

Demonstrasi yang sering digelar oleh pendukung pro-Mousavi sering berakhir ricuh. Sudah 10 orang tewas dan 100 orang luka-luka pada demonstrasi yang diadakan tanggal 21 Juni lalu. Kejadian ini jelas menimbulkan keprihatinan tidak hanya bagi bangsa Iran, tetapi juga masyarakat dunia. Apakah yang sebenarnya terjadi di Iran? Apakah kepentingan negara Barat atas Iran? Selanjutnya, bagaimanakah masa depan Iran?

Persaingan Antargenerasi

Jarang diulas media massa, ternyata Iran saat ini sedang menghadapi krisis konstitusi di mana sesuatu yang diazimatkan pada 1979 lalu ternyata harus lolos ujian globalisasi yang merebak sejak 10 tahun terakhir.

Dalam konstitusi ini, Iran menjadi negara yang melaksanakan syariat Islam dan diperintah seorang presiden. Kenyataannya, presiden tunduk pada pemimpin spiritual yang saat itu dipegang oleh Ayatullah Rohullah Khomeini. Walau pemimpin spiritual tidak dipilih oleh masyarakat, ia berfungsi pula sebagai pengawas pemerintahan yang harus bertindak sejalan dengan koridor Syiah Imamiyah.

Sepeninggal Khomeini, sistem ini tetap berlaku di mana pemimpin spiritual menjalankan banyak fungsi sekaligus: bertanggung jawab atas kebijakan- kebi-jakan umum; sebagai ketua pasukan bersenjata dan badan intelijen Iran; menyatakan perang; serta sebagai ketua kehakiman, ketua polisi, dan tentara. Setelah pemimpin spiritual, tokoh kedua terpenting adalah presiden yang dipilih melalui pemilihan umum dan selanjutnya memerintah selama empat tahun.

Tanggung jawab presiden adalah memastikan konstitusi berjalan, mempraktikkan kekuasaan eksekutif walaupun tidak berkuasa atas perkara-perkara yang berada di bawah kekuasaan pemimpin agung. Selanjutnya, terdapat Dewan Garda (Guardian Council) yang bertindak sebagai pengawas syariah bagi Iran. Dewan ini menyeleksi para kandidat presiden untuk ikut pemilu. Dewan ini sering dituding sebagai penghalang demokrasi karena sering dianggap membatasi hak masyarakat mencalonkan diri menjadi presiden.

Pada pemilu tahun 2001 lalu, Khatami yang reformis terbukti dikepung oleh 10 kandidat konservatif hasil seleksi Dewan Garda. Kala pemimpin spiritual banyak berdiam diri, ribuan pendukung Mir Mousavi, kandidat dari kubu reformis yang kalah, secara konsisten meragukan hasil pemilu dan meminta pendukungnya berdemonstrasi. Hingga akhir Juni ini, lebih dari 17 orang meninggal. Menurut kaum reformis, pemilu terakhir ini ganjil karena pengumuman yang terlalu cepat dan margin kekalahan yang sangat telak. Mir Mousavi hanya mendapatkan 34% suara.

Mereka yang berhaluan reformis kecewa karena rezim Ahmadinejad akan berkuasa kembali mengingat rendahnya kebebasan berpendapat dan buruknya ekonomi sebagaimana inflasi yang mendekati 25.55% pada 2008 dan 19.10% pada 2009. Dalam bayangan mereka, Iran terlalu fokus pada kebijakan luar negeri yang radikal dan terlalu memusuhi Amerika Serikat (AS). Bagi mereka AS bukanlah lagi syaitanul akbar (setan besar) yang harus diperangi dengan cara apa pun, tetapi sudah lebih moderat dan siap menerima Iran sebagai sebuah mitra.

Kaum reformis yang berusia di bawah 25 tahun ini ternyata mewakili lebih dari setengah penduduk Iran. Sebagaimana layaknya usia muda, generasi muda ini identik dengan keinginan untuk bebas dan berimprovisasi, yang sayangnya tidak dapat dinikmati akibat sensor media dan internet. Karenanya mereka sangat bersimpati kepada Mir Mousavi, terutama sekali dalam menanggapi kecurangan pemilu.

Sebaliknya bagi kaum konservatif, kaum reformis lekat dengan korupsi, mata-mata negara asing, serta pro-AS dan Inggris. Hal ini ditekankan oleh Khamenei ketika berpidato di Universitas Teheran 19 Juni lalu. Kaum konservatif yang berusia di atas 25 tahun masih mengalami trauma dalam berhubungan dengan negara-negara Barat, terutama sekali AS dan Inggris. Mereka mengkhawatirkan berulangnya embargo ekonomi lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB dan masih trauma dengan kehidupan semasa Shah Iran yang disangga Washington.

Bagi kaum konservatif, kemenangan mutlak Ahmadinejad (63%) adalah sesuai dengan kehendak rakyat sekaligus harapan bagi masyarakat Iran untuk melanjutkan amanat Revolusi 1979, yakni hidup berdasarkan syariah Islam. Pemimpin tertinggi Iran Khamenei diam-diam mengamini kemenangan Ahmadinejad karena kebijakannya akan sesuai dengan kebijakan Khamenei, yakni menolak adanya dua negara di bumi Palestina. Tepatnya, Palestina harus merdeka dan Israel harus angkat kaki.

Adakah Peranan Kalangan Barat?

Bagi AS, kaum reformis hendaknya menggantikan kaum konservatif yang berseberangan dengan pemikiran dan kebijakan AS di Timur Tengah. Barat sangat meragukan sistem demokrasi di Iran yang sangat tergantung pada seorang imam yang kolot, tradisionalis, tidak rasional, dan anti-Barat.

Kalangan Barat juga menuding Ayatollah bertanggung jawab atas kepemilikan senjata nuklir dan mengancam perdamaian dunia. Dalam konteks ini, media massa amat berperan melakukan perang informasi di dalam dan luar Iran. Dalam pandangan Barat, rezim moderat diharapkan dapat mengundang masuknya perusahaan-perusahaan AS guna menambang energi yang terkandung di bumi Iran, termasuk menjinakkan kelompok Hezbollah di Lebanon. Belajar dari kegagalan operasi Israel selama ini, diharapkan kemenangan kaum reformis dapat memusnahkan Hezbollah dari dalam negeri Iran sendiri.

Sadar akan bahaya kampanye negatif dari Barat yang berpotensi memicu konflik horizontal di dalam negeri dan mencuci otak generasi mudanya, dapatlah dimengerti jika Pemerintah Iran sangat kritis atas pemberitaan Cable News Network (CNN). Hal ini terbukti dari sudah diusirnya wartawan-wartawan asing. Pemerintah Iran juga mencurigai keterlibatan Pemerintah Inggris yang diduga mendukung milisi Mujahidin el-Qalq yang melakukan aksi pengeboman dan sabotase.

Ke Manakah Iran Selanjutnya?

Perlu kedewasaan kedua pihak. Kaum konservatif perlu melakukan reinterpretasi konstitusi sehingga dapat dipraktikkan dalam zaman globalisasi. Informasi bukanlah barang yang haram, tetapi berguna bagi sosialisasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan demokratisasi.

Bagi kalangan reformis, perlu kedewasaan agar reformasi yang mereka jalankan sesuai dengan tradisi Iran sendiri dan bukannya perpanjangan dari kepentingan Barat. Dalam transisi ini, masih diperlukan sebuah pemerintahan yang berwibawa dan dalam batas-batas tertentu diperkenankan bersikap keras pada gelombang demonstrasi.(*)

Teuku Rezasyah
Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran


(//mbs)

  • alex » 0 Tanggapan
    dalam pengamatan saya melalui bahan bacaan dan juga pengalaman saya selama di Iran. sy melihat kejadian seperti ini merupakan hal yang lumrah seperti di kebanyakan negara.Kandidat presiden mir Mousavi yang kalah pemilu juga sesungguhnya merupakan orang yang dilahirkan dari rahim revolusi islam sehingga sangat berlebihan apabila dituduh sebagai agen pro barat. perbedaan diantara dua kandidat ini sebenarnya lebih berkisar pada pandangan ekonomi, dan juga khususnya adlah kebijakan Ahmadinejad yang tidak populer, ia lebih mementingkan pembangunan di daerah daerah tertinggal dan pemberdayaan kaum miskin ketimbang mengikuti arus persaingan pasar bebas.sehingga kalau dilihat dari hasil sementara memang tidak aneh jika iran dalam keadaan inflasi. namun berita pemilu iran ini justru diberitakan oleh media barat dgn memblow ideologi revolusi iran yg justru sudah merupakan harga mati bagi rakyat iran.sebagaimana di indonesia pancasila adalah harga mati bagi semua kandidata pemilu, siapapun presiden indonesia dia hrs berideologi pancasila, hal sebaliknya terjadi di iran.konstitusi ideologi islam yang diputuskan dalam referendum oleh pemimpin revolusi ayatollah Khomeini sudah satu kepastian bagi rakyat iran yang tak bisa ditawar tawar lagi. Pihak barat yang merasa keberatan dengan ideologi iran justru malah mengusik usik ideologi iran, sangat wajar jika barat keberatan krn mereka tdk dapat lagi menggerus minyak bumi iran, pihak barat+ kaum kapitalis juga memotori berbagai demonstrasi yg marak belakangan ini diantara mengipasi mahasiswa iran yg pro kepada tirani Syah Reza Pahlevi bahkan sampai membawa bendera iran pra revolusi.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • zulfi » 0 Tanggapan
    ada beberapa premis yang salah sehingga akan menghasilkan konklusi yang salah juga... sejak awal, zera khomeini, sudah dijalankan referandum sebagai proses demokrasi, seperti pembentukan negara Islam di Iran adalah hasil dari referandum, yaitu ketetapan penegakan iran sebagai negara islam ditetapkan oleh rakyat..dan proses demokrasi ini tidak pernah ada dimanapun... peru dikatahui, bahwa sebelum penghitungan suarapun, musavi sudah mengelar temu press dan mengklaim dia menang...danhasil berlawanan dengan kkaim dia... semua dakwaan kelompok reformis musavi, telah ditepis oleh ahmadinejad dalam dialog terbuka TV, dan musavi tidak dapat mempertahankan pendapat reformasinya, sehingga dia kelabakan danmengakui tidak dapat menjawab sangkalan ahmadi nejad yang memiliki data resmi dari central bank iran... perlu dingat..dalam dialog terbuka itu juga dikatakan oleh ahmadinejad bahwa krisis ekonomi yang ada adalah warisan dari kepresidenan yang sebelumnya dan pada masa kepresidenan dia -ahmadi- telah berhasil mengurangi krisis tersebut (lihat tulisan opini diatas)... perlu disadari juga, refomis yang dinyatakan lebih dari setengah rakyat iran itu terlampau dibesarkan...paling tidak dapat dilihat dari hasil pemilu...dan juga kelompok muda di iranpun tidak akanmencapai jumlah itu...lebih lagi bahwa kelompok muda yang mengikuti basij (melitia, pro konservatif) melebihi jumlah pemuda pro refomis...jadi kliam ini sama sekali tidak beralasan... musavi telah menggunakan data palsu dalam dialognya dan itu telah dibuktikan dalam dialog tersebut dan musavi tidak dapat menolaknya..juga memberikan data dengan menyembunyikan sumber resminya...untuk ini maka kubu reformis jatuh pamornya di iran...dalam masa pemilu pasca dialog banyak pusat team sukses reformis langsung tutup karena melihat kenyataan bahwa ternyataa refomeis hanya membawa klaim dan tutuhan dan tidak dapat memberikan bukti nyata yang resmi...jadi hanya slogan... jadi apa yang ada dilapangan jauh dari apa yang di bawa oleh media massa...apa lagi kalau hasilnya di lihat dari cnn dan bbc...
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.