Foto: Facebook.
DEPOK - Proses penyelenggaraan Pemilihan Umum Presiden 8 Juli mendatang harus dapat mengambil pelajaran dari kekisruhan pilpres di Iran.
Pengalaman pilpres di Iran adalah sebuah pelajaran agar sejak awal penyelenggaraan pilpres sudah ditumbuhkan budaya menang kalah dan menghargai keputusan suara terbanyak di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Berikut petikan wawancara okezone dengan pengamat politik Universitas Indonesia, Abdul Ghafur Sangadji, Selasa 23 Juni 2009.
Apa yang dapat kita ambil pelajaran dari pemilihan umum presiden di Iran?
Para calon presiden dan timnya harus konsisten menerapkan budaya fair play, tunduk pada aturan main, dan tidak melakukan cara-cara mobilisasi massa untuk mempengaruhi hasil pemilu.
Menurut bapak, bagaimana sebaiknya menyelesaikan sengketa pemilu?
Saya mengusulkan, kemungkinan munculnya sengketa pemilu di akhir pesta, dapat ditempuh dengan mekanisme terbaik melalui Mahkamah Konstitusi. Sudah tidak relevan penyelesaian di luar jalur hukum karena tentu memakan biaya yang mahal seperti jatuh korban jiwa dan muncul situasi anarkis yang tidak terkendali.
Apa hikmah kekisruhan pilpres di Iran?
Hikmah terpenting dari dinamika pilpres Iran adalah perlunya pengawasan ketat oleh Panwaslu dan lembaga pemantau independen yang harus dilakukan dengan gencar untuk menghindari kecurangan yang bisa berakibat fatal. Karena potensial terjadi kecurangan seperti politik uang, serangan fajar, DPT, pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali, dan penggelmbungan suara.
Bagaimana seharusnya KPU dalam meminimalisir konflik pascapemilu?
Saya kira netralitas KPU juga menjadi mutlak sehingga hasil pemilu bisa diterima oleh semua kontestan dan bisa dipertanggungjawabkan secara demokratis di hadapan rakyat.
(nov)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan