MOJOKERTO - Menekuni hobi sebagai kolektor benda kuno memang tak mudah. Para kolektor harus penuh kesabaran untuk sekadar mencari benda yang dianggap langka itu.
Teras rumah Adhy di Perum Bumi Sooko Permai, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, sore kemarin tampak sepi. Teras yang separuh lebih bagiannya adalah kolam itu, mengisyaratkan jika pemiliknya bukan orang "biasa". Apalagi hiasan-hiasan berupa benda kuno apik terpajang.
Nampak sekali jika pemilik rumah itu menyukai nuansa zaman dulu.
Suasana kuno semakin terasa tatkala memasuki ruang tamu miliknya yang berukuran sekira 4x5 meter itu. Di sana terpampang beragam benda yang sulit diperkirakan waktu pembuatannya. Mulai dari radio berukuran sekitarsekira satu meter persegi, kamera, peralatan rumah tangga dan kantor, hingga perabot berbahan dasar kuningan.
Hampir semua ruangan di rumah itu bernuansa kuno. Bahkan untuk sebuah lemari es, Adhy merombaknya menjadi benda yang mirip dengan lemari kayu. Begitupula ranjang yang terbuat dari kayu jati yang dia pakai sehari-hari. Ranjang itu mungkin dibuat saat kakeknya belum dilahirkan, zaman dimana masyarakat memilih kayu sebagai bahan dasar semua perabot rumah tangga.
Sebagai kolektor benda kuno, Adhy bisa disebut istimewa. Setidaknya, itu dilihat dari banyaknya koleksi dan niatnya mengumpulkan barang-barang yang tak banyak dikenal itu. Saat ini, dia memiliki sekira 40 radio yang masa pembuatannya jauh sebelum negeri ini merdeka.
"Semua koleksi radio yang saya miliki, pada era sebelum radio transistor," terang Adhy, yang saat ditemui baru saja pulang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto.
Radio itu pun terdiri dari beragam bentuk, ukuran, merk, dan tahun pembuatan. Bahkan, ada salah satu radio paling canggih di eranya, yang kini masih bisa difungsikan. Radio itu bermerk Bence, buatan Jerman.
Radio yang memiliki dimensi panjang dan tinggi satu meter lebih itu masih bisa menangkap sinyal radio AM dan SW. Di dalam mesin radio yang mirip almari itu, juga terpasang piringan hitam yang juga masih berfungsi.
"Dari 40 radio kuno yang saya miliki, delapan di antaranya masih berfungsi dengan baik," terangnya.
Radio memang menjadi koleksinya yang paling banyak. Dia merasa ada kepuasan jika memiliki radio kuno yang masih bisa berfungsi secara normal. Tak jarang, dia kesulitan menemukan penjual jasa servis untuk radio-radionya itu.
"Sebisa mungkin radio itu bisa berbunyi. Tapi banyak tukang servis yang menyerah," lontarnya sembari menujuk beberapa radio yang gagal diservis dan terpaksa menjadi pajangan di beberapa ruangan rumahnya.
Bisa dibilang, Adhy memiliki semua jenis benda kuno di rumahnya. Mulai dari peralatan elektronik, mebel, hingga peralatan rumah tangga dan kantor. Bahkan, dia memiliki satu mesin hitung manual yang bisa mengolah angka hingga triliunan. Alat itu, hingga saat ini masih bisa difungsikan dengan cara manual.
"Alat hitung ini bermerk Original Ohner, buatan Jerman pula. Ini alat hitung milik saudagar kaya di masa alat ini dibuat. Karena kemampuan digit hitungnya melampaui kalkulator meja," katanya sambil berusaha menunjukkan bagaimana cara mengoperasikan alat tersebut.
Dua buah kamera super kuno juga sempat dia tunjukkan. Satu di antaranya masih menggunakan lensa ganda bermerk Ricohflek Model III. Masih dibalut dengan tas kulit, kamera super unik itu juga masih bisa difungsikan.
Menjadi kolektor benda kuno, memang tak mudah. Selain harus berkantong tebal, juga harus siap kecewa jika gagal mendapatkan barang incarannya. Dia sendiri juga kerap kebingungan antara memenuhi hobi dan kebutuhan rumah tangganya.
"Ya, kerap saya kecewa karena tak punya uang, sementara ada barang kuno yang menurut saya menarik untuk dikoleksi," aku bapak satu anak ini.
Adhy sedikit berbeda dengan kolektor lain yang mudah menjual koleksi miliknya. Dia berpedoman, semua barang yang dibeli dari penjualnya itu adalah amanah. Sehingga jika terpaksa menjualnya kembali, dia harus "berpamitan" kepada pemilik awalnya.
"Sebisa mungkin saya pertahankan, karena jika dijual, tak menjamin jika saya bisa membeli barang serupa," katanya.
Dia juga berprinsip, mengoleksi benda kuno merupakan bagian dari penyelamatan sejarah. Lantaran itu, dia selalu meluangkan waktunya untuk membenahi barang kuno miliknya yang tak bisa lagi berfungsi.
"Ada kenikmatan jika bisa mengembalikan fungsi semula benda-benda itu," pungkasnya.
(Tritus Julan/Koran SI/lam)