NEWS » News

WNA Jepang Tewas di Penangkaran Mutiara Trenggalek

Senin, 29 Juni 2009 09:57 wib

TRENGGALEK - Tarau Inagaki (60) seorang warga negara Jepang yang bekerja sebagai teknisi atau oyster culture expert perusahaan penangkaran mutiara CV Gunung Utara Mutiara ditemukan tewas di depan kantornya bekerja.

Kantor Inagaki terletak di Jalan Pantai Ngrembang RT37/RW008, Dusun Karang Gongso, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

Saat ditemukan pada Minggu 28 Juni kemarin, korban mengenakan kaos warna biru lengan pendek dengan celana pendek warna abu-abu. Pada tubuh pria yang memiliki tinggi sekira 170 cm itu terdapat beberapa luka terutama pada bagian belakang kepala dan tubuh.

Di antaranya, luka memar belakang kepala sepanjang 5 cm. Kemudian telinga kanan robek ke belakang sepanjang 6 cm dan telinga kiri 3 cm. Selain itu, terdapat benjolan pada leher dan lecet pada bahu kanan.

Lokasi kantor korban berada di daratan yang dibatasi pantai selatan yang populer dengan nama Pulau Ngrembang.

Diduga pria yang beridentitas alamat 4794-12 Katada, Shima-Cho, Shima-Shi-Mie-Ken, Jepang itu menjadi korban pencurian disertai kekerasan (perampokan).

Kasat Reskrim Polres Trenggalek AKP Wajib Santoso belum bisa memastikan apakah warga Jepang tersebut korban perampokan. Untuk memastikan itu, petugas membawa jenazah ke RSU dr Soedomo Trenggalek untuk diautopsi.

"Namun rencananya kita akan membawa jenazah ke Surabaya, di mana keluarganya juga menunggu," ujarnya kepada wartawan, Minggu (29/6/2009) malam.

Informasi yang dihimpun, korban telah setahun bekerja dan tinggal di mess penangkaran mutiara bersama karyawan lainnya. Sehari sebelum ditemukan tewas, Sabtu 27 Juni sekira pukul 19.00 WIB, mesin jenset untuk penerangan pulau tiba-tiba terbakar tanpa diketahui sebabnya.

Sekira 20 orang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Pulau pun dalam keadaan gelap gulita. Api dibiarkan padam dengan sendiri. Keesokan harinya Nagaki (korban) tak bernyawa, terlentang di atas tumpukan batu pemecah ombak.

Terkait dugaan pembunuhan itu Wajib mengatakan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. "Kita tidak berani menerka-nerka. Karenanya masih kita lakukan penyelidikan," pungkasnya.
(Solichan Arif/Koran SI/lsi)