JOMBANG - Peredaran narkoba di Jawa Timur pada titik yang mengkhawatirkan. Saat ini, Jatim menduduki peringkat dua setelah Jakarta.
Wakil Gubernur sekaligus Ketua badan Narkotika Provinsi (BNP) Jatim, Saifullah Yusuf mengaku mulai prihatin dengan terus meningkatnya peredaran narkoba di daerahnya. Lantaran itu, pihaknya telah berkerja sama dengan Polda Jatim untuk terus mengungkap kasus-kasus narkoba.
"Agar Polda Jatim lebih intensif membongkar kasus-kasus narkoba dan jaringannya, serta pabrik-pabrik narkoba yang saat ini marak," terang Saifullah Yusuf, saat menghadiri peringatan Hari Anti Narkoba Internasional di Alun-alun Jombang, Senin (29/6/2009).
Selain menggandeng polisi, Pemprov Jatim juga berencana menaikkan anggaran penanggulangan narkoba melalui BNP dan BNK yang ada di masing-masing kabupaten dan kota. Juga mengintensifkan sosialisasi serta penanggulangannya.
"Kalau bisa, anggaran itu dinaikkan tiga kali lipat," kata Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf setelah menghancurkan barang bukti berupa 4.000 botol miras dan ratusan liter miras oplosan.
Direktur Narkoba Polda Jatim Kombes Pol Erwin Siregar mengatakan, peredaran narkoba di Jatim memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2007 lalu, angka kasus narkoba mencapai 2.118. Sedangkan tahun 2008 mencapai 2.238 kasus. "Tahun ini, hingga bulan Mei saja, sudah ada 1.447 kasus," ujar Erwin.
Selain peredaran narkoba yang terus meningkat, angka pabrik narkoba juga mengalami kenaikan. Tahun ini saja kata dia, sudah ada enam industri rumahan narkoba jenis ekstasi dan sabu-sabu yang dibekuk polisi.
"Kebanyakan home industry narkoba itu berada di kawasan perumahan elit yang jauh dari pusat kota, Terbanyak berada di Kota Surabaya," imbuhnya. (Tritus Julan/Koran SI/lsi)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan