JAKARTA - Banyak pengamat yang menilai debat calon presiden dan calon wakil presiden ibarat panggung hiburan. Para calon pemimpin bangsa itu bukan beradu argumen, namun malah bernyanyi, berpantun, bahkan berkelakar bak pelawak.
Debat capres-cawapres yang berjalan satu arah membuat masyarakat jengah setelah menyaksikan dua putaran debat tersebut. Debat calon wakil presiden putaran kedua bahkan dinilai lebih menjemukan.
Salah satu faktornya adalah sang moderator yang dinilai tidak mampu membawa suasana debat menjadi menarik. Walau terkesan gugup, namun Anies Baswedan dinilai lebih baik daripada beberapa moderator lainnya.
Malam ini, debat capres putaran terakhir akan ditayangkan oleh RCTI langsung dari Balai Sarbini Jakarta. Dalam debat ini, dosen UGM yang juga Director of Centre for Local Politics and Regional Autonomy, Prof Dr Pratikno, akan menjadi moderator yang membawakan tema NKRI Demokrasi dan Otonomi Daerah. Akankah dia mampu membawakan suasana lebih kompetitif dalam debat nanti?
Catatan dari debat capres putaran kedua dinilai mulai ada serangan yang dimunculkan oleh Jusuf Kalla. Namun, serangan yang menimbulkan perdebatan lantas berubah menjadi lawakan. Audiens memang terhibur oleh kelakar para capres tersebut, namun akhirnya bangsa kebingungan mencari sosok pemimpin untuk lima tahun mendatang.
Sependapat dengan apa yang diungkap pengamat politik Yudi Latif, debat capres bersifat monolog dan tidak ada konfrontasi pandangan. Hanya pada debat yang dimoderatori oleh Alviliani yang dilihat menjadi debat yang terbaik, karena dalam debat tersebut topik dan proposisinya jelas.
Justru pernyataan dari moderator yang akan tampil sore ini di Balai Sarbini, Prof Dr Pratikno malah menimbulkan rasa pesimis. Walau dirinya berusaha untuk memancing debat lebih hidup, tapi jika para capres selalu berkata sependapat dengan capres lainnya, maka debat tidak akan berjalan seperti debat putaran pertama.
Seharusnya tim sukses tidak perlu bereaksi saat KPU meralat format debat dan akan memberikan kesempatan moderator dengan memancing pertanyaan. Sikap protes mereka malah menjadi pertanyaan, mengapa mereka tidak membantu masyarakat Indonesia belajar demokrasi. Padahal, jika pada capres bisa beradu argumen dengan mengendalikan emosi, masyarakat jadi bisa memilih siapa yang terbaik memimpin Indonesia.
Masyarakat berharap, debat capres putaran terakhir betul-betul memunculkan debat yang tidak membuat orang mengantuk. Beberapa di antaranya mengaku ingin menjadi saksi hidup, apakah debat terakhir betul-betul dipenuhi adu dan mempertahankan argumen, atau hanya sekadar menjawab pertanyaan ilmiah moderator.
(Novi Muharrami)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.