o1 o2

News


Penderita Hidrocepalus, Menunggu Uluran Tangan

Sabtu, 4 Juli 2009 - 07:48 wib
text TEXT SIZE :  
Share

SIDOARJO - Kendala klasik masyarakat miskin untuk berobat adalah biaya pengobatan. Demikian yang dirasakan pasangan Sudaryono (29) dan Istiqomah (21), yang tinggal di tempat kosnya, di Kelurahan Bungurasih, RT 4 RW 3, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Lailatul Qoiriyah, anak semata wayangnya yang baru berumur 15 bulan, mengalami pembesaran kepala (hiderocepalus).

Penghasilan Daryono, yang hanya seorang pencuci bus di Terminal Purabaya (Bungurasih), hanya cukup untuk kebutuhan makan dan keperluan keluarga. Pasangan muda ini kesulitan untuk membiayai pengobatan anaknya, padahal jika dibiarkan kepala anaknya terus membesar seiring berjalannya waktu.

Sudaryono mengaku, setiap kali mencuci bus, dia hanya bisa mendapatkan upah antara Rp20 sampai Rp25ribu. Dalam sehari, kadang ada dua bus yang bisa dicucinya, itupun dikerjakan bersama dengan temannya. Dengan penghasilan itu, dia harus kembali mengurasnya untuk membayar kost sebasar Rp300 ribu perbulan plus biaya hidup lainnya yang tidaklah sedikit.

Pria bertubuh kurus ini menceritakan, ketika anaknya berumur tiga bulan, dia menderita panas tinggi. Tanpa disadari, di dahi anaknya tumbuh benjolan kecil. Laila pun dibawa ke klinik yang berada di kawasan Waru.

Dokter yang menanganinya, memvonis Laila menderita Hidrocipalus dan oleh dokter Laila dirujuk ke RSUD Sidoarjo. Sudaryono dan sitrinya kemudian membawa Laila ke RS tersebut, dan oleh petugas Laila pun disuruh menjalani CT Scan di kepalanya.

Dihantui biaya CT scan sebesar Rp500 ribu, Sudaryono dan istrinya memilih membawa pulang anak tercintanya. "Kita tidak punya uang sebesar itu, jadi terpaksa kami bawa pulang lagi anak kami," aku Sudaryono.

Tiba di rumah, penyakit anaknya bertambah parah. Kepalanya terus membengkak, hal ini yang membuat pasangan muda ini cemas. Menginjak usia 9 bulan, Sudaryono nekat membawa anaknya ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

Berbekal surat keterangan miskin yang dia kantongi, Laila akhirnya mendapat perawatan di RSUD Dr Soetomo. Sudaryono dijanjikan, anaknya akan segera mendapat perawatan dengan terlebih dahulu melakukan CT Scan. Dokter juga memvonis Laila menderita infeksi paru-paru atau DD Hidrosifali.

Namun kenyataan berkata lain, hampir sebulan CT Scan tidak juga dilakukan. Pihak rumah sakit berdalih, hemoglobin (HB) Lailatul lagi-lagi kurang. Bahkan, dokter ahli bedah saraf yang menangani anaknya mengklaim penyakit Laila sudah kadaluarsa.

Lalila sempat dirawat di RSUD itu selama kurang lebih satu bulan dengan menghabiskan biaya sebesar Rp7 juta. Oleh pihak rumah sakit, Sudaryono disarankan agar anaknya dioperasi dengan dana sekira Rp50 juta. Namun, keluarga kecil ini tak menyanggupi biaya sebesar itu.

Selang beberapa pekan, pihak rumah sakit kembali memintanya untuk membawa Lalila untuk menjalani CT Scan.

"Tapi Anak saya hanya diberi obat panas dan tidak di CT Scan. Alasannya juga sama, HB anak saya tidak memenuhi syarat untuk dilakukan CT Scan," tandas Sudaryono yang mengaku waktu itu dia mengeluarkan uang Rp 700 ribu untuk biaya pengobatan.

Sejak itu, Sudaryono seperti putus asa dan tidak pernah membawa lagi anaknya ke rumah sakit. Selama enam bulan belakangan, kepala anaknya semakin membesar "Kami tidak tahu harus bagaimana lagi," tandasnya.

Dia dan istrinya kini pasrah dan sebatas memberi obat panas kepada anaknya. Di rumah kos berukuran 4x3 meter, pasangan muda ini merawat anaknya dengan penuh kecemasan. Apalagi, mata kiri Laila juga mengalami masalah pada korneanya sehingga sering mengeluarkan air. "Saya tidak tahu sampai kapan kondisi anak saya seperti ini," tukas Sudaryono.
(Abdul Rouf/Koran SI/ded)

Bagi Pengguna Ponsel, BlackBerry Nikmati Berita Terkini Di http://m.okezone.com
Share
 Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?

Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan
o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

  • Rabu, 10 Februari 2010 06:10 wib

    Ibunda Bilqis Pendonor Terpilih

  • Rabu, 10 Februari 2010 06:03 wib

    LPSK Digeledah, Sudiharsa Sangat Terhina

  • Rabu, 10 Februari 2010 05:04 wib

    Drajat: Soetrisno Berjasa bagi PAN

  • Rabu, 10 Februari 2010 04:04 wib

    KPU Dinilai Ceroboh Cabut SEB Panwas

  • Rabu, 10 Februari 2010 03:03 wib

    Polisi Selidiki Ledakan Genset RSU Pirngadi

  • o3 o4