PEKANBARU - Kisah tragis empat mahasiswa Indonesia yang menjadi korban penyiksaan oleh anggota kepolisian Mesir, kian mengiris hati, saat diketahui salah satu dari mereka, Faturahman, adalah seorang yatim piatu.
Pria kelahiran 26 tahun silam di Desa Pematang Berangan Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, ini sudah tidak mempunyai ayah dan ibu sejak 2003 lalu.
Ayahnya, almarhum H Arab Munduh meninggal akhir tahun 2003 berketepatan dengan Faturahman pamit, untuk pergi menimba ilmu di Kairo Mesir bersama tiga rekannya.
Selama tiga tahun menuntut ilmu di Universitas Al Azhar, Faturahman yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara ini kembali mendapat kabar yang tidak menyenangkan dari kampung halamannya.
Ibundanya yang paling dia cintai pergi menyusul ayahnya pada pertengahan tahun 2006 karena sesuatu penyakit. Dia pun rela tidak pulang ke kampung halaman, sekadar melihat jasad sang Ibu untuk terakhrir kalinya. Hanya doa yang dia panjatkan kepada Allah, agar kedua orang tuanya diterima di sisis-Nya.
Itulah sepenggal cerita salah sseeorang mahasiswa korban penyiksaan saat menimba ilmu di Mesir, seperti diceritakan Roudatul Firdaus kakak kandung Faturahman.
"Adik saya memang sudah lama kepingin kuliah di Mesir, keberangkatannya ke sana tidak ada paksaan. Itu kemauan kerasnya. Sebagai abang sekaligus orang tua bagi adik saya, maka saya yang mengurus keberangkatanya." kisah Roudatul kepada okezone, Minggu(12/7/2009).
Menurut Roudatul, adiknya adalah orang yang ramah dan pandai bergaul. Keseharianya dia selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku agama dan bermain bola.
"Dia orangnya supel, jadi begitu tamat dari pesantren di Rohul, dia minta permisi untuk kuliah di Mesir bersama tiga rekanya yang juga satu kelas waktu di pesantren dulu. Sebentar lagi dia akan di wisuda" katanya.(ded)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan