getting time...

NEWS » News

MOS SMAN 16 Surabaya Renggut Nyawa

Kamis, 16 Juli 2009 09:59 wib

SURABAYA - Dunia Pendidikan Surabaya tercoreng. Siswa SMAN 16 Surabaya Roy Aditya Perkasa (16), warga Wisma Tropodo Jalan Flamboyan AH-16 Waru, Sidoarjo, tewas setelah pingsan saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di sekolahnya.

Roy pingsan ketika mengikuti kegiatan MOS. Dia sempat dirawat di unit kesehatan sekolah (UKS). Karena tak kunjung siuman, Roy akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari. Sekitar pukul 16.00 WIB nyawa Roy tak tertolong. Jasadnya lantas dikirim ke RSU dr Soetomo untuk diautopsi.

Hingga pukul 21.00 WIB tadi malam, pihak rumah sakit masih melakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian Roy. Diduga anak pasangan Saidi dan Mulyanti ini mengalami kelelahan sekaligus tekanan psikis saat mengikuti MOS.

Kejadian ini berawal ketika para peserta MOS dipersilakan masuk aula, untuk kegiatan demonstrasi dari kakak-kakak pembinanya. Saat di aula tersebut, ada kegiatan demonstrasi kakak pembinanya berupa pukul-pukulan seolah berkelahi dengan temannya.

Melihat kejadian itu tiba-tiba Roy pada pukul 14.30 WIB jatuh pingsan. Saat pingsan, sekolah membawanya ke ruang usaha kesehatan sekolah (UKS) dan langsung menghubungi orangtuanya.

Karena tidak kunjung siuman maka Roy dibawa ke RSI Jemursari Surabaya. Awalnya Roy sempat dirawat tetapi pukul 16.00 WIB, dia dinyatakan meninggal dunia. Setelah meninggal dunia, jenazah Roy dibawa ke RSU dr Soetomo untuk keperluan visum et repertum.

Proses autopsi berlangsung hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Jasad Roy lantas dimakamkan di pemakaman Perumahan Kepuh Permai, Sidoarjo, sekitar pukul 22.00 WIB tadi malam.

(Koran SI/Koran SI/ful)

  • Qrang » 0 Tanggapan
    saya alumni sma 16 sby, angkatan lulusan 1999.gimana menurut pendapat pak KETOS?? Salam buat anak - 2 biyen
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Sunarji,S.T » 0 Tanggapan
    Kami berdua dengan istri saya Julia Gracia berharap kejadian itu jangan terulang lagi kami dari pihak yang berwajib telah mmbanu secukupnya
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Syafrizal Rahadian » 0 Tanggapan
    mungkin ada beberapa orang yang menganggap bahwa pelaksanaan MOS dengan berbagai tingkatan disiplinya menganggap itu bagus dan dapat membuat siswa mengenal sekolah barunya dan dengan segala aturan2 yang ada. akan tetapi tingkatan2 tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masing2 individu peserta MOS. karena meskipun sebagian bnyak peserta menganggap hal itu wajar saja akan tetapi mungkin ada minoritas peserta menganggap hal itu sangat tidak wajar dan sangat membuat tekanan mental.sehingga jika sudah tidak kuat hal seperti ini sangat mungkin terjadi..maka perlu adanya dibuat aturan2 yang jelas sehingga kegiatan MOS tersebut harus benar2 sesuai aturan sampai tingkat bawah.dan para petinggi2 sekolah sebaiknya terus memantau kegiatan tersebut setiap saat. agar kegiatan2 yang dilaksanakan benar2 sesuai dengan peraturan2 yang ada
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Arya » 0 Tanggapan
    Kejadian itu turut membuat saya prihatin... kok bisa ada yang meninggal dalam MOS. namun kita jangan terburu menyimpulkan kalau dia meninggal karena kekerasan fisik atau mental bila belum ada bukti, sebab itu menjadi fitnah. belum tentu orang meninggal di MOS karena MOSnya kan?
    Beri Tanggapan Laporkan
  • gaza » 0 Tanggapan
    menurut saya mos tetap diadakan, cuma jangan berlebihan, perhatikan kondisi mental dan fisik peserta mos tersebut... mos itu gunanya agar lebih mengenal sekolah, kakak kelas, guru2, juga sekolah... mos juga diadakan agar para peserta mos menjadi lebih disiplin... oleh karena itu,dengan cara yang tidak berlebihan saja bisa kan memenuhi kegunaan mos tersebut...
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.