YOGYAKARTA - Salah seorang guru SMA Muhammadiyah di Kecamatan Kedu Temanggung, Jawa Tengah, Mohzahri dikaitkan dengan terorisme karena rumahnya disebut-sebut dijadikan persembunyian teroris, yang kemudian tewas saat penyergapan oleh Densus 88, Sabtu lalu.
Mantan Ketua PP Muhammadiyah Amien Rais meminta agar masyarakat tidak mengaitkan kasus Mohzahri dengan Muhammadiyah.
"Tidak bisa dipukul rata menodai organisasi," tukas Amien Rais saat ditemui wartawan di Kampus Budi Mulya II, Blimbing Sari, Yogyakarta, Selasa (11/8/2009).
"Ada polisi nakal, tentara nakal, guru Muhammadiyah nakal itu hanya oknum, dan perlu dipisahkan," tambahnya.
Mohzahri adalah pengsiunan Departemen Agama pada 2000. Setelah pensiun dia diperbantukan di SMA Muhammadiyah Kedu. Mohzahri kemudian ditangkap polisi karena dianggap menyembunyikan orang yang sebelumnya diduga sebagai Noordin M Top, di rumahnya di Desa Beji, Kelurahan Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung.
Mohzahri merupakan ayah Tatak, yang pernah ditangkap polisi karena terkait peledakan di Hotel JW Marriott 2003 silam. Selain Mohzahri, dua keponakannya, Indra Arif Hermawan (22) dan Aris Susanto (31), juga ditangkap sebelum penggrebekan Sabtu lalu.
(Satria Nugraha/Trijaya/fit)