WEDA - Tak selamanya peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan selalu harus dirayakan dalam sebuah upacara di lokasi resmi dengan barisan pasukan pengibar benderanya.
Seperti yang dilakukan puluhan orang yang tergabung dalam Ekspedisi Merah Putih yang memperingatinya pada kedalaman delapan kilometer Goa Boki Maruru di Desa Sagea, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Senin (17/08/2009) pagi.
Meski tanpa sirene detik-detik proklamasi, gelaran pasukan, maupun prosesi lainnya, namun peringatan 64 tahun HUT Kemerdekaan RI yang dilakukan tetap berlangsung khidmat. Acara ditandai pegibaran bendera merah putih yang dilakukan puluhan pemuda dari berbagai latar belakang seperti pelajar, mahasiswa, PNS, hingga dokter.
Perjalanan tim Ekspedisi Merah Putih Boki Maruru itu sendiri harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencapai kedalaman goa tersebut. Diawali dengan penyusuran Sungai Sagea sejauh lima kilometer menuju ke lokasi goa yang terkenal kemisteriusannya karena belum ada satupun yang bisa mencapai ujung goa.
Setiba di sekitar goa, perjalanan penuh perjuangan baru dimulai. Diawali pendakian tebing setinggi kurang lebih 50 meter dengan kemiringan yang nyaris mencapai 90 derajat untuk mencapai mulut goa. Barulah saat tiba di mulut goa, tim pun melakukan perjalanan maha berat dimana melewati jalanan berlumpur yang amat gelap dengan obor sebagai penerangan seadanya.
Setelah menempuh waktu sekitar dua jam untuk menuju kedalaman 8 kilometer tersebut, di sebuah lokasi yang agak lapang, tim mulai melakukan upacara bendera menyambut detik-detik proklamasi tepat pukul 10.00 WIT. Sebelumnya, salah seorang peserta sempat membacakan naskah teks Proklamasi.
Momentum HUT RI ini, memang dijadikan generasi muda setempat sebagai refleksi dari perjuangan para pahlawan kemerdekaan dimana di goa ini, sempat menjadi basis dan tempat persembuyian bagi para pejuang, termasuk juga lokasi penyembunyian tentara Belanda dari kejaran para serdadu Nippon.
Selain itu, ada tujuan lain dari pelaksaan upacara HUT RI di gua tersebut. Keberadaan goa ini sedikit demi sedikit terancam akibat eksploitasi tambang nikel oleh perusahaan berinisial WBN yang jaraknya tak jauh dari goa tersebut.
"Kami ingin adanya campur tangan pemerintah dan juga warga dunia agar gua ini tak rusak akibat lahan pertambangan. Sekiranya ini bisa dijadikan cagar alam oleh lembaga internasional," tutur Ghazali, salah seorang peserta ekspedisi pada okezone.
Goa itu sendiri menyimpan sejuta pesona yang bisa dijadikan tempat wisata yang eksotis baik di dalam goa itu sendiri yang menyimpan batu-batuan berwarna-warni yang indah, namun juga perjalanannya menuju ke goa yang menyisiri sungai, ikut menjadi pemandangan alam tersendiri yang memang layak dijadikan obyek wisata.
(ful)