Ustaz Syaefuddin Zaelani yang berjanggut dan bergamis membuat Jamaah Tabligh Dicurigai
SIDOARJO - Jamaah Tabligh dicurigai terlibat jaringan terorisme, karena Ustaz Syaefuddin Jaelani, perekrut pelaku bom Kuningan Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana, ditenggarai sering berpindah-pindah masjid untuk berdakwah, seperti yang dilakukan anggota Jamaah Tabligh.
Salah satu ulama Jamaah Tabligh di Sidoarjo, Abdurrahman Soleh berpendapat sebenarnya masyarakat bisa mengidentifikasi 'penyusup' yang mencoba mengikuti pola Jamaah Tabligh dengan memperhatikan materi dakwah.
"Sebetulnya kalau kita memperhatikan pembicaraan dakwah, orang seperti Syaefuddin akan berbeda jauh dengan kami. Paling banter kami membicarakan pentingnya iman dan amal soleh dan usaha atas iman, dan bagaimana menghidupkan agama," terangnya.
Jamaah, menurut Soleh, memang melakukan perekrutan, namun hal itu hanya sebatas merekrut orang agar bagaimana memakmurkan masjid, mendirikan salat lima waktu.
"Kami itu setiap pindah masjid tidak lepas dari pembicaraan itu. Setiap orang membicarakan iman pasti suka karena kehebatan Allah yang dibicarakan. Kalau ada yang mencoba melakukan perekutan 'pengantin' (pelaku bom bunuh diri) bisa terlihat, ada tendesi awal," jelasnya.
Jamaah Tabligh tidak pernah mengajarkan jalan kekerasan dan hanya aktif berdakwah. Masyarakat pun diminta tidak terbawa suasana ikut mencurigai mereka sebagai kelompok yang terlibat jaringan teroris.
"Kami datang dengan lemah lembut. Menurut saya masyarakat tidak perlu terbawa suasana, kami tidak membawa kekerasan, apalagi merekrut calon pengantin," terang Soleh.
Jamaah Tabligh, menurutnya, bukan organisasi. Siapa pun bisa menjadi anggota dan bergabung untuk ikut berdakwah sehingga Jamaah Tabligh bisa saja disusupi pelaku teror yang coba memanfaatkan jalur dakwah.
Menyikapi hal itu, Soleh menyatakan tidak terlampau khawatir. Di Jamaah, menurutnya, cukup mempunyai data untuk bisa mengenali anggotanya.
Di Jamaah dikenal basis-basis asal dari kelompok terkecil yang disebut mahala dan kemudian halaqah. "Insya Allah ada daftarnya, kalau tidak terdata bisa terlihat di situ," terangnya.
Bila ada anggota yang kemudian memiliki orientasi yang bergeser ke arah radikalisme yang menganjurkan kekerasan, jamaah biasanya tidak akan lagi menggunakannya untuk memberikan ceramah.
"Jika kami lihat ada anggota yang mengarah ke kekerasan kami tidak menggunakan untuk ceramah, walau itu orang alim sekali pun. Kami biasanya punya tertib tidak berbicara politik praktis dan khilafiyah (perdebatan termasuk soal agama dan kemasyarakatan)," terangnya.
Jika ada yang terbukti masuk dalam jaringan terorisme, Soleh menyatakan, jamaah akan menyerahkan sepenuhnya kepada aparat hukum. "Bagaimana hukum yang berlaku silakan," katanya. (fit)
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan