JAKARTA - Departemen Pendidikan Nasional mulai tahun ini menerapkan proses belajar mengajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kepada siswa SMP Terbuka.
"Kita optimis dengan program ini dapat memacu dan memotivasi minat belajar siswa secara mandiri, sebagai ciri khas cara belajar di SMP Terbuka, yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto di Jakarta, Senin (24/8/2009).
Suyanto mengungkapkan, salah satu ciri khas SMP Terbuka adalah cara belajar siswa yang menitikberatkan pada belajar mandiri, baik perseorangan maupun kelompok. Karenanya, untuk lebih memacu dan mendorong minat siswa mandiri tersebut diperlukan adanya berbagai upaya inovatif.
"Meskipun telah dicoba berbagai upaya, hambatan kendala waktu ternyata bukan hanya menjadi milik mereka dari keluarga tidak mampu yang belajar di SMP Terbuka. Banyak pula anak-anak dari keluarga mampu mengalami kendala yang sama, karena kesibukan dalam menjalankan profesi yang pada waktu itu belum mereka lakoni," ungkap Suyanto.
Menghadapi kondisi tersebut, lanjutnya, melalui Direktorat Pembinaan SMP bekerja sama dengan Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan melakukan inovasi proses pembelajaran di SMP Terbuka menjadi lebih luas lagi. Caranya, dengan meningkatkan mutu pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya TIK.
"Jadi, siapapun bisa menjadi siswa SMP Terbuka. Karena SMP Terbuka akan memberikan pelayanan pendidikan kepada siapapun anak usia 13-15 tahun dari semua kalangan, yang mempunyai kendala waktu untuk mengikuti pelajaran di SMP reguler," tegasnya.
Untuk merealisasikan program dimaksud, pihaknya telah melakukan berbagai upaya persiapan, di antaranya penyusunan rancangan tahap pertama berupa naskah akademik dan grand design program pembelajaran berbasis TIK, menuju terselenggaranya SMP Terbuka Jarak Jauh. Selain itu, menyelenggarakan serangkaian workshop penyamaan persepsi, pengembangan jalinan kemitraan dengan berbagai lembaga pendukung, penyempurnaan program pembelajaran, hingga sosialisasi kepada khalayak.
"Ditargetkan pada Ramadhan 1430 Hijriyah ini menjadi waktu yang tepat untuk memulai pencanangannya. Saya berharap pada saatnya SMP Terbuka bukan lagi menjadi SMP kelas dua, tetapi dapat menjadi pilihan lain bagi anak-anak yang karena berbagai alasan. menjadi pilihan dalam memperoleh layanan pendidikan yang tetap unggul, Karena saat ini saja jumlah SMP Terbuka sudah mencapai 2.270 sekolah tersebar di seluruh Indonesia," imbuh Suyanto.
(Iman Rosidi/Trijaya/ram)