getting time...

Tak Semua Bisa Terima KPK yang Powerful

Lusi Catur Mahgriefie - Okezone
Kamis, 10 September 2009 12:37 wib

JAKARTA - Belakangan ini polisi dan KPK seakan terus bertentangan. Hal ini semakin mencuat setelah Ketua KPK Antasari Azhar ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Banyak hal yang dirasa sebagai tindakan penggembosan terhadap lembaga yang memiliki wewenang menyelidik, menyidik, hingga menuntut tersangka korupsi itu.

Pakar hukum Universitas Indonesia Topo Santoso dalam wawancara dengan okezone menilai, kecemburuan terhadap KPK bisa muncul sebagai implikasi bahwa KPK sebagai suatu lembaga yang sangat powerful belum diterima semua kalangan.

Berikut petikan wawancaranya:

Tanggapan Anda bahwa belakangan ini Polri-KPK terkesan berseteru?
Saya termasuk yang menyesalkan. Masing-masing lembaga penegak hukum punya kewenangan. Misalnya KPK khusus korupsi dengan syarat tertentu, polisi bisa menyidik semua tindak pidana dan juga berwenang jika ada dugaan tindak pidana oleh siapapun termasuk KPK.

Jadi kesan saling serang dua lembaga itu benar?
Problemnya, masyarakat sudah disuguhi berita sebelumnya seperti ada dugaan KPK mencium pimpinan polisi terlibat satu kasus, sementara ada ketegangan antara polisi dengan KPK, "kok penegak hukum disasar juga".

Apa yang Anda  tangkap di balik situasi ini?
Menurut saya ini implikasi dari kehadiran suatu lembaga yang sangat powerful seperti KPK, yang belum bisa diterima semua kalangan.

Penyelesaiannya menurut Anda?
Sebetulnya tidak perlu saling mengincar satu sama lain artinya kalau ada oknum lembaga penegak umum baik itu KPK, polisi, kejaksaan langsung saja ke personalnya jadi jangan berakibat pada institusinya.

Menurut saya tiga lembaga ini harus lebih dewasa. Kalau menangani kasus di institusi periksa saja personalnya.

Berbagai masalah ini untuk memandulkan KPK?
Sepertinya terlihat ke arah KPK akan dimandulkan. Seperti melihat dari berbagai pemberitaan, adanya yudicial review, pemandulan dari segi legislasi, menjelekkan citra dengan pimpinan diperiksa, lama-lama citra jadi jatuh.

Tapi ini masuk akal, ini tren. Penggiat dan lembaga antikorupsi di berbagai negara banyak yang berhenti karena seperti ini.
(lsi)