JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyayangkan pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla yang cenderung menginginkan Golkar menjadi oposisi. Pernyataan SBY itu dinilai sebagai bentuk intervensi. Benarkah?
"Reaksi politically incorrect SBY bisa dianggap intervensi dapur rumah tangga Golkar. Pernyataan SBY juga bisa meredam efek dukungan JK kepada Surya Paloh," ujar pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi, Rabu (7/10/2009).
Menurut Burhan, risiko itu nampaknya sengaja diambil SBY agar Golkar bisa diajak bergabung dengan pemerintah bukan karena mengemis kekuasaan. Ini dikarenakan Golkar adalah parpol yang sulit menjaga jarak dari kekuasaan.
"Sekali lagi bahwa ini adalah maneuver SBY yang menjalankan politik rekonsiliasi dengan merangkul lawan-lawannya sewaktu pilpres lalu. SBY seakan berprinsip keep your friends close but your enemies closer," papar pria berkacamata ini.
Disinggung soal pernyataan JK, Burhanuddin menilainya cukup mengejutkan, karena JK berbicara dalam kapasitas sebagai ketua umum, bukan wakil presiden. Pernyataan JK juga dinilai sebagai reposisi Golkar lima tahun kedepan.
"Memang pidato JK terkesan tidak netral. Apalagi sikap menjadi oposisi adalah wewenang pengurus pasca-Munas saat ini, bukan dirinya," pungkas Burhan.
(TB Ardi Januar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.